Baiklah. Saya, Shinta Vazriana, akan melaporkan
Kostan Mariance Pellokilla
Depok, 6 Juli 2009
07.30 am
Depok, 6 Juli 2009
07.30 am
Yap, 07.30 pagi. Kepagian? Yaenggalah, boy. Cuma kebo yang masih belom bangun jam setengah delapan pagi *digigit rame-rame* Dan sebagai teladan yang baik nan berbudi luhur, gue udah standby dari jam setengah tujuh di kostan manche—entah itu gue lagi kerajinan ato gimana, hanya Allah yang tau. Good, berarti gue sama Manche tinggal nunggu kedatangan Ulpi, Andreas, Bima, Nana dan Laras, Adom dan Inez, Assa sama Dani. Sementara Arum dan Andy katanya nunggu di rumah Arum di Cibinong dan Erwin nungguin di Bogor. Gak lama setelah itu, datanglah Andreas yang dateng-dateng langsung ngeguling dan tidur-tiduran di ruang depan kostan Manche. Tidak ada salam, tidak minta izin—huh, tidak sopan! Tolong jangan ditiru, Sodara sekalian. Benar-benar kemerosotan moral.
Kedatangan Andreas ini sempat memicu kepanikan dalam hati gue dan Manche, Saudara-saudara! Kami was-was, “Anak siapakah yang tadi malam menjadi korban Andreas?”—karena well, wajahnya tampak begitu kelelahan. Atau memang wajahnya memang begitu? Lagi-lagi, hanya Tuhan yang tahu.
Manche dan gue was-was karena rupa-rupanya ada kendala teknis yang dapat menyebabkan Andreas ngesot sendirian ke puncak kalau tidak segera diselesaikan masalahnya. Saat kedua gadis menggemaskan tersebut sedang serius berdiskusi, datanglah Bima dengan senyum sumringahnya. Sayangnya senyumnya tidak menular kepada gue dan Manche karena pria centil tersebut tidak menunjukkan faidah dan manfaatnya untuk membantu menyelesaikan masalah. Nyahahah. Yang ada, kita malah semakin stress karena mendengar bima terus-terusan bertanya “Terus gimana?” “Terus gimana?” sementara yang jadi akar permasalahan (baca: Andreas) sedang asyik tidur-tiduran sambil nonton gossip pagi dengan polosnya. Ckckck. Dasar teman durhaka.
Tapi yasudahlah. Lanjutkan.
Detik demi detik berlalu, hari demi hari berlalu, tahun berganti tahun *lha sekarang tahun berapa jadinya?*
Dan masalah belom selesai sampai saat Ulpi dateng berbekal gembolan mudiknya. Sementara itu, sms terus masuk ke inbox handphone saya, saudara sekalian, dan isinya sama. Mau tahu isinya?
”Eh, ngumpul jam berapa n dimana?”
Wadezig. BLEDDAR! JEGERR DHUARR DHUAARR!
Gue gak ngerti, mereka yang oon apa gue yang kepinteran? Soalnya, dari malem sebelomnya gue udah sms mereka ngasih tau detail tempat sama waktu tapi tetep ajah mereka masih nanya juga *tabok semua yang sms* *ditabok balik* Dengan sabar, saya pun membalas sms mereka satu per satu kemudian beralih lagi membicarakan masalah Andreas.
Singkat cerita, akhirnya diputuskan bahwa atas nama kesolidaritasan yang tepa selira dan mufakat *jiah, apapula* bahwa manche dan gue akan naek kereta ke bogor, kemudian bertemu dengan yang lain di Botani Square. Setelah layaknya majikan yang menyuruh Bima dan Ulpi untuk jangan lupa mengunci pintu, nyapu, ngepel dan agar jangan lupa membawa tas-tas kita yang berat (Manche dan gue pergi naek kereta dengan berlenggang kangkung, FYI), kami pun pergi sambil terkikik penuh arti.
Stasiun UI-Botani Square
Depok, 6 Juli 2009
08.30 am-GakTauLupaJamBerapa
Depok, 6 Juli 2009
08.30 am-GakTauLupaJamBerapa
Untung gak boleh ditolak, rezeki harus diraih. Sesampainya di stasiun, beruntunglah gue dan manche karena kereta selanjutnya yang menuju Bogor adalah kereta Express seharga delapan ribu rupiah *joget-joget bareng manche* eitss, jangan dilihat dari harganya, tapi lihat dari fasilitasnya. Kalo dibandingkan dengan kereta ekonomi, kereta express itu ibarat..umm..ibarat Upik Abu yang udah berubah jadi Cinderella. Kereta Express JAUH lebih aman, mewah dan lenggang daripada kereta ekonomi yang sumpeknya gak ketulungan. Ya gitulah pokoknya *ditimpukin* Dan makasih deh buat Assa yang nyaranin naek kereta ekonomi—beuh, lo gak tau ajah tuh kereta ekonomi isinya udah kayak ikan teri rica-rica. Untung kagak diikutin saran lo.
Gak nyampe setengah jam di atas kereta, kita berdua udah nyampe di Bogor. Langsunglah kita menuju Botani Square dengan menggunakan angkot. Jangan tanya ya kita pake uang darimana buat ongkos kereta sama angkot. Fufufufufu *senggol manche*
Nyampe Botani, kedua gadis jurusan IT kebanggaan lo semua ini sempet celingukan nyari kerjaan karena pas kita nyampe, Botani masih tutup. Akhirnya, dengan terpaksa kita mencuri start dengan makan bubur. Sebenernya gue gak terlalu suka bubur, namun apa boleh buat—gue laper, jadi mau gak mau diembat juga ituh bubur. Nyahahaha. Saat lagi makan bubur, gue menghubungi ulpi via sms dan Ulpi melaporkan bahwa rombongan dari Depok masih berada di rumah Arum di Cibinong. Artinya, butuh waktu sedikit agak lama bagi mereka untuk segera sampai di Botani Square. Gue sih sebodo amat, tapi Manche nyengir mendengar kabar tersebut yang entah mengapa membuat abang tukang bubur ketakutan *dicekek manche*
Setelah makan bubur dan belum ada tanda-tanda kedatangan para pasukan bermotor, akhirnya gue dan manche memutuskan untuk melakukan rutinitas sehari-hari selain bernafas. FOTO-FOTO!. Well, Botani belom buka, sih. Tapi siapa bilang foto-foto cuma bisa dilakuin di dalem mall? *kipaskipas* Akhirnya, kita foto-foto dipinggiran luar Botani Square dengan pedenya. Fufufu.
Timur ke Barat, Selatan ke Utara. Dari musim duren sampe musim rambutan.
Setelah foto-foto macem-macem gaya, entah kenapa itu pasukan bermotor masih belom dateng juga. Tapi akhirnya dateng juga sih. Tapi agak lama. Tapi.. ah yaudahlah, yang penting dateng. Dan sesudah mereka dateng, ternyata kami semua masih harus nunggu kedatangan Erwin yang ternyata pas ditelepon masih ada di rumahnya (ngomong-ngomong, neleponnya pake pulsa saya *urek-urek tanah*). Jadilah setelah mengamuk dan menghancurkan KFC Bogor yang berlokasi di depan Botani Square—gak deng, itu mah emang lagi diancurin—akhirnya kita nunggu lagi sambil foto-foto. Gue dan Manche sukses menculik Laras (ceweknya Nana—red.) buat diajakin berfoto nista di luar bangunan Botani lagi. Sementara itu, sepertinya Bima dan Ulpi lomba makan bubur. So sweet. Lomba kok makan bubur.
Gue, Manche dan Laras pun kembali ke tempat rombongan menunggu sambil cengar-cengir, kemudian melanjutkan foto-foto lagi bareng anak-anak laen. Selagi asyik berfoto ria untuk membunuh waktu, kami sepertinya menjadi pusat perhatian di pinggiran jalan Botani Square itu. Gimana enggak? Kami diliatin abang-abang tukang minuman, dikatain “koret!” sama bocah peminta-minta songong dan ditereakin “gandeng!” sama abang tukang bubur. Ah, kami sih nyante ajah. Mungkin mereka hanya sirik akan keeksisan kami. Kata Hanamichi Sakuragi juga pan Sirik Itu Tanda Tak Mampu *disepak ke Danau Toba karena gak penting* Setelah kami banyak menuai hujatan dari abang-abang asongan di pinggiran jalan, akhirnya Erwin dateng juga dengan tampang kusut. Anak-anak kontan menaruh curiga kalau Erwin baru bangun tidur pas tadi ditelepon. Tapi ternyata salah. Usut punya usut, Erwin sedang memendam masalah cinta yang cukup rumit, Pemirsa. Ah, kami jadi gak tega marahin dia..
Setelah Erwin dateng, kita semua langsung berangkat. Gue dapet boncengan sama Erwin. Wakakakakak. Muke die asem sepanjang jalan, meeennnn *diketekin erwin*
Di tengah jalan, terjadi perdebatan seru antara Assa dan anak-anak cewek tentang jadi ato enggaknya ke curug *lebay* Assa beranggapan lebih baik langsung menuju puncak tempat menginap melihat kondisi jalan yang panasnya naujubileh dan macet ampun-ampunan. Tapi para wanita berkehendak lain. Sebagai pihak yang hanya tinggal ongkang-ongkang kaki diboncengin, para wanita bersikeras ingin main-main air di curug, apalagi Manche. Tidak heran memang kalau melihat tempat asalnya yang dahulu sulit ditemukan sumber air untuk bisa dipakai main-main *digorok*
Curug Cilember
Puncak, 6 Juli 2009
Lupa-Jam-Berapa p.m
Puncak, 6 Juli 2009
Lupa-Jam-Berapa p.m
Dengan dukungan penuh dari Bima yang tampaknya juga belum pernah ke curug manapun *lirik-lirik bima*, akhirnya rombongan pun memutuskan untuk KE CURUUUUGGG!! YEEEEAAY!. Namanya Curug Cilember, Pemirsa. Dan jalanan masuk curugnya benar-benar aduhai. Terdiri dari tanjakan dan turunan curam yang berbahaya bagi jiwa dan raga *lebay*. Untungnya motor riders dari kelas kita handal semua, jadi medan kayak gitu ibarat upil bagi mereka.
Akhirnya, sampai. Sementara Erwin menanyakan harga tiket masuk Curug, para pria memarkir motor mereka. Sialnya selang beberapa detik kemudian saya mengalami kesialan, Saudara-sauaara! MUKAA SAYA KENA TENDANGAN BOLAAA DARI SEORANG MAKHLUK KIPIK BERNAMA DANI! *lirik tajem dani* %@$#&@!^#($ WTF~ kamprets, sakit gila. Dan kunyuknya semua ngetawain gue! HEH, SINI LUU SEMUA! GUE TENDANG BOLA SATU-SATU KE MUKA LUU PADA BARU NYAHO! *emosi*
*rapiin kerah baju*
Ehem, maaf pemirsa. Saya kebawa emosi *lirik Dani* Dan Btw, si Dani belom minta maap ke saya *lirik Dani lagi*
Kita pun masuk ke Curug. Gue pribadi sih bilang Curug Cilember ini oke banget. Bersih. Dari pintu masuknya ajah udah keliatan penataannya yang kejaga. Yang paling gue suka itu yah pemandangannya. Ijo semua *nyengir* kagaaaak, kita kagak di hutan, cuman kiri kanan kita berupa semak yang terpangkas rapi gitu and it was all awesome. Tempat wisata di sini ternyata gak cuma mencakup air terjun doang. Ada camping ground, penangkaran kupu-kupu sama.. samaa.. sama apalagi gitu gue lupa. Yang penting asiklah tempatnya. Haaha. Herannya banyak banget orang arab yang maen ke situ. Mungkin karena di Arab gak ada aer terjun *sok tau* *dilelepin ke aer terjun*
AKHIRNYA NYAMPE JUGA DI AIR TERJUNNNNN! YATTTTAAAA~~A!
Ih, wuaw. Air terjunnya kereeeenn! Sayangnya karena liburan, jadi agak-agak rame gitu. Padahal kan kalo kita mau maen, pengennya satu ground itu private jadi milik kita. Nyahahahaha *ditabokin pengunjung laen* Pertama-tama sih, masih celup-celupin kaki gitu deh. Dan astaganagabonarpunyaanakkembar, airnya dingin, boy! Persis banget kayak aer kulkas yang baru lo keluarin dari freezer sebelom sempet jadi es batu *halah* Kaki gue ajah berasa mati rasa.
Gak puas cuma nyelupin kaki, akhirnya boteng paling eksis (baca : ulpi dan manche) ngajakin gue sama arum buat nyemplung basah-basahan. Hajar bleh. Nyemplunglah kita berempat sementara yang laen Cuma ongkang-ongkang kaki. Huuuuu~~ payah dasar. Gak lama, Bima mulai mupeng dan ikutan nyemplung, diikutin sama Andy yang juga gak mau kalah. Dani juga nyemplung-nyemplung dikit sih, tapi gak nyemplung total. Dia kan megangin kamera buat fotoin kita. Nyahahahaha.
Btw, eh gue gak boong yah, AERNYA DINGIN MAMPUS! Sampe pas udah keluar dari aer ajah masih kerasa dinginnya. Malahan, berasa abis ditonjokin saking dinginnya. Gyahahahaha. Tapi asyik. Odon ih yang gak pada ikut nyemplung. Ngapain ke curug kalo takut basah-basahan. Hehehe. Btw, btw. Kalo gue bilang, yang paling eksis nyemplung di Curug itu adalah Manche, gue, Ulpi dan Bima. And you know what? Kita berempat pake baju bernuansa merah gityuu. Mungkin memang takdir, Pemirsa, kalau kami berempat mempunyai skenario hidup yang berhubungan dengan cara menjadi anak-anak udik yang suka maen aer. Fufufu. Arum juga ngeksis nyemplung sih, tapi karena dia lagi nerima tamu, jadinya keeksisannya dikalahkan Bima gitu deh *gakpenting.com*
Setelah lumayan lama maen-maen di Curug, acara nyemplung terpaksa harus disudahi karena faktor waktu. Tapi gue sih curiga acara nyemplung ini disabotase sama Assa dan Erwin karena mereka bosen cuma ngeliatin orang-orang yang nyemplung sementara mereka ngeliatin doang sambil makan cemilan. Tapi apa boleh buat, karena udah dingin juga, akhirnya kita menyudahi acara maen aer dan segera ganti baju. FYI ajah nih ya, pas lagi bilas dan ganti baju, terjadi momen yang begitu berharga, Saudara sekalian. Momen tersebut adalah momen dimana gue, Ulpi dan Manche mandi bareng tanpa ditutup-tutupi! Ohohoho. Jadi kalo mau dibilang kita bertiga udah kenal luar-dalem, yah emang gitu kenyataannya. Kita bertiga udah ngeliat sampe ke daleman masing-masing. Nyahahahaha *ditabok Manche sama Ulpi*
Udah ah, lanjut.
Jalanan Puncak
Puncak, 6 Juli 2009
Gue-Gak-Inget-Jam-Berapa p.m
Puncak, 6 Juli 2009
Gue-Gak-Inget-Jam-Berapa p.m
Kembali ke motor, kembali ke jalanan. Ternyata perjalanan dari Curug Cilember ke Villa sewaan kita lumayan jauh. Tapi jauhnya perjalanan gak kerasa kalo buat gue pribadi. Why? Why why why? Oh, itu karena gue puas mandangin kiri kanan gue yang—astagfirullah, itu pemandangannya ajib bener! Sumpah ya, gue udah sering banget ke puncak dan gue gak pernah berhenti kagum kalo pas lagi ngeliat pemandangan ijo yang keren banget itu—entah itu kebon teh ato apalah pohon-pohon itu namanya. Keren mampus, sumpah. Gue bisa jejeritan cuma dengan ngeliat pemandangan kayak gitu. Pengennya sih berhenti buat ngeliatin lebih lama, tapi gue tau gue bakal dirajam anak-anak laen kalo gue ngerengek pengen berhenti. Alhasil, gue cuma bisa nikmatin sekilas-sekilas doang. Foto-foto dikit, tapi hasilnya agak mengecewakan karena efeknya gak semenakjubkan kalo liat aslinya.
Lha? Gue jadi curhat begini. Wakakakaks.
Okeh. Sekedar pemberitahuan ajah, Pemirsa. TERNYATA BIMA ITU PUNYA PENYAKIT AUTIS HIPERAKTIF! Terbukti selama perjalanan, pria mesum yang satu itu menggerak-gerakan kakinya ke depan dan ke belakang dengan gaya yang gak banget. Menurut penuturan Bima sendiri, katanya sih itu untuk membantu agar laju motornya lebih cepat. Tapi dari pengamatan gue, gerakan tersebut malah lebih mirip orang kesurupan. Untung ajah jalanan enggak begitu rame. Kalo ada orang yang liat gaya Bima tersebut, bisa-bisa dia digotong ke Mesjid At-Ta’awun terus dibacain Ayat Kursi rame-rame.
Sayangnya, tidak semua orang sependapat dengan gue. Teman kita, Adom, menganggap tindakan Bima adalah tindakan yang patut ditiru sehingga dalam hitungan detik, Adom sudah menciptakan gaya yang tidak kalah anehnya. Dia ngegoyang-goyangin tangan kanan dia di samping motor dengan gaya joki kuda lagi memacu kudanya. Jadi dia ceritanya lagi nyelepet motor dia gitu deh. Ajib, sumpah. Stress tuh orang satu. Mana motornya bunyinya gedebekan pula—rock and roll abis. Kalo diibaratin sama kuda, motornya Adom yah kuda mabok. Ato gak kuda lumping. Sesuai sama yang punya *dibakar idup-idup sama adom*
Kompleks Villa Tirta Nauli
Puncak, 6 Juli 2009
Lagi-lagi-gue-lupa-jam-berapa
Puncak, 6 Juli 2009
Lagi-lagi-gue-lupa-jam-berapa
Singkat cerita (tolong jangan paksa gue mendeskripsikan gaya aneh Bima dan Adom lebih lanjut), kita akhirnya nyampe di villa! Wooho. Jadi tempat kita nginep itu lebih kayak kompleks villa gitu. Namanya Tirta Nauli, dan kita nyewa villa yang terletak di paling ujung. Sebenernya tadinya mau nyewa dua villa, tapi berhubung orang yang ikut juga terlalu sedikit kalo harus nyewa dua bangunan, akhirnya kita hanya nyewa satu villa doang. Kesepakatan bersama dan menurut gue, itu keputusan yang tepat juga. Toh dengan hanya satu villa pun, kita udah bisa jumpalitan gegulingan karena lahannya yang terbilang luas—ada lapangan futsal/basketnya dan kolam renangnya pula. Malahan kita jadi punya uang lebih karena gak jadi nyewa dua villa. Wekekekekek.
Villa yang kita sewa itu berbentuk bangunan yang letaknya agak memanjang—terdiri dari dua kamar tidur dan satu kamar mandi di dalem beserta TV dan penghangat ruangan serta satu kamar lain yang adanya di luar bangunan utama. Kamar paling depan di bangunan utama itu dipake cewek-cewek buat jadi markas, sedangkan kamar satunya yang letaknya agak ke dalem itu buat para cowok. Kamar yang diluar dan terpisah dari bangunan utama dengan gesitnya udah dideklarasikan Assa dan Bima sebagai kamar tempat mereka tidur. Ajegiling, curang. Mentang-mentang survey, mereka maen nempatin kamar yang paling pewe ajah gitu. Ada TV sama kamar mandi dalem. Huh!
Anyway.. Dapur juga di luar, terpisah dari bangunan utama dan kamar luar, tapi jaraknya masih deket untuk bisa masak dan segala macem dan asyiknya, peralatan dapurnya udah terbilang sangat lengkap. Sayangnya yang lengkap Cuma alat masaknya doang. Makanannya gak disediain juga. Nyahahah.





Gue lupa terus waktu itu ngapain ajah, tapi yang jelas setelah beres-beres segala macem, semua orang langsung menuju dapur. Ada yang beres-beres, ada yang nyuci piring dan Erwin sibuk ngeluarin bahan-bahan hasil belanja dia tadi pagi. Gue? Ongkang-ongkang kaki sambil minum teh anget dong ah. Pusing abisnya ngeliatin orang pada seliweran gak jelas. Mana Bima sama Assa (iyah, lagi-lagi mereka) tereak-tereak minta makan mulu pula. Wkakakakak. Berasa boss ajah mereka.
Urusan dapur, Erwin yang pegang dengan dibantu beberapa oknum lain. Gue gak tau siapa ajah yang bantuin Erwin karena gue lagi asyik ajojingan duduk-duduk di luar sambil terngantuk-ngantuk, sementara anak cowok pada berenang. Yayaya, kasian Erwin. Tapi emangnya kenapa? Erwin ajah gak protes, kenapa elo yang protes?
Detik berlalu dan tiba-tiba ajah maen “Cebur-ceburan” dimulai. MAU TAU SIAPA KORBAN PERTAMA? MAU TAUU? *aura setan* G-U-E. Kagak tau itu siapa yang ngusulin pertama kali, tapi wanjreds, gue lagi asoy-asoynya ngadem tiba-tiba dikerubutin ajah—ditarik-tarik sama para pria barbar. TAI, sumpah. Gue udah tereak-tereak sampe pegangan ke kursi, tapi masih ajah ditarik juga ajah, boy! Dan anak cewek laen, mereka malah berkomplot membantu para pria dengan cara mengamankan handphone dan uang di celana gue. ITU YANG LO BILANG SOLIDARITAS, HAH? *mutilasi anak cewek satu-satu* Dan Manche malah sempet-sempetnya ngerekam kejadian itu.
Gue pasrah ajah dah. Setan.
Saking pasrahnya, gue buka sandal gue sendiri sebelom akhirnya digotong *iyeh, Njing, gue beneran DIGOTONG* dan diceburin ke kolam renang villa. Bukankah itu sangat tidak berprikemanusiaan, Pemirsa? Pelanggaran HAM? KDRT? Ini bahkan bisa disamakan seperti kasus Ma**hara. Seharusnya gue bisa saja melaporkan mereka ke Pengadilan, tapi atas nama solidaritas, yaudah deh. Dibiarin ajah *wadezig*
Basah? YAEYALAAAAAHHH. Dan berat giilaa—secara gue diceburin dengan masih pake jeans. Dan itu tuh baru ganti setelah abis bilas dari curug. Dan berarti gue harus ganti baju lagi. Dan lo pada tau gak kalo udaranya mule dingin, haah?
Setelah diceburin, gue bingung harus melakukan apa. Setelah diarak kayak ondel-ondel dan diceburin, gue didiemin ajah gitu. Karena gue masih syok abis diceburin *jyah lebay*, gue pun diem ajah sambil ngegerutu “Anjing, basah. Dingin, dingin.” berulang kali sambil nungguin anak cowok nyeburin Arum, Ulpi dan Manche juga. Niat gue, gue yang bakal tertawa paling keras saat mereka diceburin nanti.
Err.. Pemirsa. Gara-gara kelamaan ngelaporin, saya jadi lupa siapa duluan yang diceburin lagi setelah saya. Kalo gak salah sih Ulpi. Dia ditarik dari dapur. Sebenernya itu cuma kamuflase Ulpi doang, Pemirsa. Dia udah tau bakal diceburin juga, jadinya langsung ngacir ke dapur dengan alih pengen bantuin Erwin masak. Mungkin tadinya ia berniat berdalih sedang memasak untuk makanan kami semua sehingga seharusnya dapat dispensasi gak diceburin daripada kagak pada makan entarnya. Xixixixi. Tapi sori ajah, kagak mempan. Ujung-ujungnya digotong juga ajah tuh si Ulpi dari dapur dan sukses diceburin. AYEYY!
Karena tamu-nya Arum belom pulang, jadinya anak-anak gak mungkin nyeburin dia. Jadi tau dong siapa yang kesisa?
Yoyoi.
Manche *ngakak setan*
Eh, eh. Masa saking takut diceburinnya, si Manche ganti baju duluan biar baju dia kagak basah dua kali. Tapi lagi-lagi percuma. Para pria lagi hobi ngegotong kayaknya, jadinya dalam waktu singkat si Manche udah diarak ke pinggir kolam. Konyol banget sumpah ngeliat Bima. Dengan badan langsing sexy-nya dia menggumamkan “Huh huhh huha huh huh huh ha” kayak manusia purba sambil ngegotong si Manche. Dan anehnya mirip. Subhanallah.
Pelemparan Manche agak lebih brutal, Sodara-sodara. Tadinya dia mau dilempar dari
……..
……..
Oke, maaf. Gue tau gue garing *jedokin kepala ke tembok*
Back to the topic.
Acara cebur-ceburin berakhir dengan berenang. Abis gimana dong, Pemirsa. Udah telanjur basah mah mending sekalian ajah, kan? Bahkan nih, ya, Si Arum nekat nyebur juga. Curaaang. Si Arum enak banget kagak dilempar. Huh. Btw, dalam kesempatan kali ini beberapa orang mengambil kesempatan untuk sekalian belajar berenang. Fufufu. Mereka udah jago sekarang. Jago tenggelem, maksud saya *dilemparin kaktus* Piss piss.
Waktu pun berselang hingga terjadilah suatu momen yang disebut TRAGEDI NASI KERAK.
Jadi gini, Sodara-sodara. Babeh kita tercinta alias Erwin bermaksud untuk membuat nasi liwet alih-alih nasi biasa—biar lebih enak, katanya. Lagi-lagi sebagai pihak yang tidak berurusan dengan dapur, gue dan anak-anak lain pun hanya manggut-manggut budiman. Sementara gue, Laras, Ulpi, Manche, Arum dan Erwin sibuk maen masak-masakan dengan kemampuan ala kadarnya, anak-anak cowok bermain futsal. Awalnya semua berjalan lancer karena tampaknya Erwin mengerti sekali cara membuat nasi liwet. Namun, semua berubah saat Erwin dan Ulpi pergi membeli bumbu masak dan meninggalkan dapur di tangan orang-orang yang mempunyai kemampuan masak di bawah rata-rata. Belum cukup sampai di situ, dapur pun kemudian di kudeta oleh Bima dan Assa (yak! Lagi-lagi mereka). Dan lagi-lagi mereka mengatakan bahwa mereka kelaparan. Sebelum sempat disadari, Assa sudah mengorek-ngorek nasi setengah jadi yang merupakan calon mahakarya Erwin. Katanya mah kalo masak nasi juga dia bisa. Yang laen cengo, tapi enggak bisa berbuat apa-apa.
For your Information, guys. Di villa yang kita sewa itu tuh enggak ada magic jar atau hasil penemuan canggih apapun yang bisa dipake buat masak nasi. Yang ada cuma penggorengan dan jadilah kita masak nasi di penggorengan sambil ngaduk-ngaduk gitu. Yeah, bayangkan dan kasihanilah kami.
Laras pun turun tangan dan membantu Assa. Mereka terus mengaduk-aduk nasi bagaikan tukang semen yang lagi ngaduk semen. Dan hal ini membuat Erwin yang baru datang kontan menjerit-jerit histeris *lebay* “Ini tuh diapain (sama kalian)?”, “Ini mah bukan nasi liwet atuh,” “Ini kan mau dibuat nasi liwet,”. Begitulah kira-kira komentar Erwin sambil senyum-senyum saat melihat nasi yang aneh dihadapannya. Mungkin itu senyum kasihan yang ia keluarkan kala menyadari bahwa teman-temannya tidak ada yang bisa memasak nasi liwet. Oh my gosh, hari gini..*kayak gue bisa ajah*
Erwin pun dengan cekatan menyelamatkan hari. Ia segera mengaduk-ngaduk, jungkir balik, gelindingan, gedubrakan, komat-kamit dan segala macam hal yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan nasi yang notabene bakal dijadikan makan malam. Erwin terlihat keren pemirsa; dan untuk sesaat, saya pikir Erwin itu reinkarnasi Rudy Choirudin *halah lebay*.
Singkat cerita, kami pun berpikir nasi sudah berhasil diselamatkan. Ayam pun sudah digoreng. Sambel udah dibuat. Tempe sudah siap walaupun bentuknya agak aneh. Kami pun lalu berhip-hip-hura saking senangnya.
Makan malam dimulai. Semua orang sudah siap menerkam satu sama lain untuk mendapat jatah yang lebih banyak dari yang laen. Dan gue baru menyadari semua temen gue ternyata punya napsu makan di atas rata-rata walapun kemampuan masak mereka berkebalikan. Xixixixi. Sebelum makan, anak-anak pun mendaulat Erwin untuk mengucapkan sepatah dua patah kata, sekalian berdoa. Anehnya, Pemirsa, gue ngerasanya jadi kayak lagi menghadiri acara ulang tahun Erwin. Kita ceritanya tamu undangan gitu dan sebelom makan, Erwin ceritanya ngucapin dulu makasih karena udah dateng ke pesta ulang tahunnya. Heu. Absurd. Ah, mungkin gue ajah yang lagi autis.
Berdoa selesai.
Makan dimulai. Dalam tiga detik, semua lauk udah laku, Sodara-sodara. Sekarang kalian tau teman macam apa yang sekelas sama kalian selama setahun kemaren. Fufufufufufu~~ Btw, kalo mau tau, nasi yang jadi sumber masalah itu, yaa hasilnya jadi agak-agak gosong berkerak gitu. Enggak tau dah itu diapain sampe bisa kayak gitu. Dikit, sih. Tapi kayaknya pada enggak peduli. Kita mah makan ajah terus.
Setelah makan, kita pun merencanakan untuk jalan-jalan malam. Enggak jelas mau kemana, tapi yang penting jalan-jalan. Anak-anak udah excited banget. Yap, semua kecuali Dani. Hahaha. Sekedar informasi, semaleman ituh Dani kedinginan, Sodara sekalian. Kemana-mana bawa-bawa sarung buat selimutan biar enggak kedinginan. Persis kayak tukang ronda. Udah gitu, katanya dia pilek. Wakakakaks. Menurut pengakuan dia sendiri sih, itu disebabkan karena malam sebelum acara perpisahan, dia udah lebih dulu ke puncak sama temen-temennya yang laen dan enggak tidur. Ah, sebodo. Suruh siapa, kan, ya? Wekekekekekeks.
Si Dani tadinya sempet enggak mau jalan, Pemirsa. Tapi dipaksa sama anak-anak terus mungkin dia juga ketakutan kalo ditinggal sendiri, jadi yah ujung-ujungnya dia ikut juga. Jalan deh tuh kita. Jalan-jalan kita ini sekalian sama kepulangannya Nana dan Laras karena mereka enggak nginep. Laras belom dibolehin nginep sama nyokapnya, padahal katanya dia pengen banget. Tapi apa boleh buat, akhirnya mereka terpaksa pulang juga dan bilang kalo ada kumpul-kumpul lagi, hubungin ajah mereka. YOYOIIII! Pastinya! Aww, gue demen deh sama orang-orang model begitu. Mwah mwah to Laras and Nana!
Berhubung bensin Dani sekarat, jadilah kita nyari pom bensin dulu. Setelah itu, berhubung gue lagi pengen gulali, gue bilang deh ke Erwin.
Gue: “Win, nyari gulali doooonng, mupeng banget nih gue.”
Erwin: “Yaudah, ke pasar malem.”
Gue: “Ho oh, yes yes yes.”
Tapi ternyata.. ujung-ujungnya Erwin bingung sendiri mikirin nyari pasar malem di puncak dimana. Wakakakaka. Odong, dah. Y owes, akhirnya gue memendam hasrat pengen makan gulali dalam-dalam dari pada nyusahin anak yang laen *lebay* Udah gitu—TARAAAAAA! KITA KE PUNCAK PASSS! *tepok tangan sendiri*
……..
……..
Well, iya sih. Puncak pass biasa ajah. Tapi lumayanlah daripada enggak sama sekali. Masalahnya beberapa dari kita udah pada kedinginan gitu, efek dari maen cebur-ceburan di curug dan di kolam, jadinya enggak bisa jauh-jauh jalan-jalannya. Tapi puncak pass juga oke, kok. Kita nongkrong-nongkrong di sana sambil ngobrol enggak jelas. Ketawa-ketawa juga enggak jelas ngetawain apaan. Ngalar ngidul, tapi asiklah. Bahan ngobrolnya jauh lebih banyak daripada ngobrol kalo lagi di kampus. Kata orang sih, ini namanya Spending Quality Time. Wakakakaks. Biarpun bentar tapi ngobrolnya cukup seru juga. Fufufu.
Kita pun balik.
Pas kita balik, ternyata berbarengan sama kedatangan Tiga Petinggi Boteng—Jay, Gusti sama Koben. Ohmaiiggatt. Plis yah ituh, gue antara seneng sama bete gitu ngeliat mereka. Senengnya karena jadi makin rame, keselnya karena ADA GUSTI. Watdehek itu orang masih ada di Pulau Jawa. Sialan banget. FYI, guys. Tuh orang bilang dia bakal pulang ke Medan sehari sebelom acara perpisahan makanya enggak bisa ikut. Malah gue, Ulpi sama manche udah pake ngasih kado perpisahan yang mahal dan mewah gitu deh buat temen perjalanan Gusti ke Medan. Eh gak taunyaaaaaaaaaaaaaaa~~ Dia muncul ajah gitu di Puncak bareng si Jay sama Koben sambil nenteng-nenteng gitar. Gue cengar-cengir cengo bego ngeliatnya. Gue nyesel sekarang kenapa kagak gue mutilasi isi Gusti di Puncak. Ulpi sama Manche kontan mencak-mencak ke Gusti. Penipu, tukang ngibul, jahat dan tuduhan lainnya pun melayang kea rah Gusti dari ketiga cewek cantik ini. Ketiga Boteng hanya mesem-mesem najong. Akhirnya pembelaan pun dikeluarkan oleh mereka. Mau tau pembelaan mereka? “Si Gusti kita cegat di Merak biar enggak jadi pulang,” kata Jay. Tertuduh cuma cengar-cengir sok cool sambil sesekali dengan kalem bilang, “aku tak bohong, si jay jemput aku.”
Pretpuihoeekkscuhh!
Ngomong-ngomong, Gusti, kau sudah masuk daftar Perayu Gombal yang Tukang Ngibul di urutan teratas versi gue, Manche dan Ulpi. Hohohohoooo~~
Terserah, deh, ya apa kata mereka. Karena capek mendengarkan segala alasan, akhirnya kamipun memilih untuk kembali melakukan rutinitas *jiah rutinitas naon?*
Lumrahnya dalam suatu perpisahan, seharusnya kita maen Truth or Dare ato curhat-curhatan. Tapi bukan Nanonine namanya kalo maen yang kayak gituan. Anak-anak malah maen kartu, sodara-sodara. Beuh, elit sekali bukan? Gue udah seneng ajah, soalnya gue pikir bakalan maen Tepok Nyamuk—secara ajah gitu kan, Tepok Nyamuk maenan favorit gue. Hihihi. Asik gila nabokin tangan orang. Eh, enggak taunya anak-anak malah maen Setan-Setanan. Dan setan-setanan enggak terlalu menarik minat gue, karena rasanya tuh permaenan lambaaaaat banget—elo harus ngambil kartu orang, nyari yang sama, ngambil lagi sampe ada yang sama dst. Lama dan bikin bete. Gue enggak suka. Gue lebih seneng maen tepok nyamuk yang fast paced, sumpah *enggakadayangnanya.com* Tadinya Erwin sempet ngajuin permaenan laen. Namanya Polisi-Polisian (my gosh, kenapa permaenan kartu itu namanya aneh-aneh =.=”). Anak-anak pada kagak tau. Dan Erwin pun mulain narik nafas buat menjelaskan.
Erwin: “Polisi-polisian? Masa pada enggak tau? Jadi gini… ada Polisi dan Penjahat—,”
Yang laen: *mendengarkan dengan takdzim dan budiman sambil mangap*
Gue: “Huaaahh, kelamaan. Luu mau cerita apa maen kartu, hah?”
Yang laen: “Iyah, kelamaan. Udah Setan-Setanan ajah.”
Erwin pun senyum-senyum pasrah memaklumi karena punya temen-temen kayak kami. Yaudah dah, dia akhirnya tidur-tiduran di sofa sambil sms-an dengan tampang yang menunjukkan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Tim Gosip kami mendapatkan kabar bahwa ternyata Erwin sedang marahan sama ceweknya karena Erwin enggak ngasih kabar seharian! Wakakakakak *ditabok karena malah ngetawain* Euleuh euleuh. Mani sakituna. Naha atuh teu ngasih kabar Si Akang Erwin teh?
Udah ah, lanjut lagi. Urusan Erwin itu mah *ditabok lagi*
Akhirnya diputuskan tetep maen Setan-setanan. Maka dari itu gue enggak ikutan maen. Gue Cuma duduk doang ngeliatin yang laen maen sambil nyelimutin kaki. Ternyata ngeliatin doang juga sama ngeboseninnya, meennn. Ujung-ujungnya gue malah dijadiin setan alias dijadiin tempat nyimpen kartu yang harus dicari pasangannya selama permaenan—halah, gue bingung ngejelasinnya. Gitulah pokoknya. Sementara itu, ketiga boteng dan Dani (yang masih setia sama sarungnya) nyanyi-nyanyi ngegitar gitu di beranda luar, walau pada akhirnya Jay sama Koben ikutan maen dan Gusti masuk Cuma buat meperin bedak ke orang yang kalah. Wekekekek.
Maen kartu berlanjut sampe lewat tengah malem kalo enggak salah. Dengan rekor dipegang sama Ulpi dan Andreas yang terbebas dari peperan bedak alias enggak pernah kalah. Gue masih ngeliatin permaenan kartu sambil terngantuk-ngantuk dan nyedot-nyedot idung yang meler karena kedinginan. Btw, jago juga si Andreas maen setan-setanan, ya? Jadi curiga kalo jangan-jangan dia udah dapet bocoran kartu-kartu mana yang bakal jadi setan dari ceweknya—kali ajah ceweknya cenayang. Soalnya nih, ya, si Andreas tuh dari pas nyampe vila langsung ngeguling di tempat tidur, selimutan. Orang-orang nyangkanya dia
Setelah maen kartu~~ um, agak lupa gue. Pokoknya gue, Manche, Arum, Bima, Assa, Andy sama.. sama.. Erwin.. sama.. err, lupa.. pokoknya setelah maen kartu kita nongkrong di dapur. Kalo enggak salah sih, kita mau bikin mie gtu. Eh, apa mau minum teh anget ya? Lupa deh gue. Tapi yang jelas, ujung-ujungnya kita malah jadi ngobrol enggak jelas lagi. Wakakakak. Dari topic pisah kelas, topic kasian-banget-deh-tampang-Erwin, topic waktu kita jalan-jalan ke sukabumi sampe topic yang paling gue benci dunia akhirat. Yup, apalagi kalo bukan topic tentang dunia gaib, setan-setanan de el el de es be. Seinget gue, Manche yang mulai duluan topic ini gara-gara dia nyebutin betapa creepy-nya jalanan dari Pelabuhan Ratu ke rumahnya Ulpi malem-malem. Terus cewek berponi lengkung itu ngelanjutin dengan cerita dari emaknya Ulpi kalo suka ada cewek melambai dan macan putih dipinggiran jalan balik ke Sukabumi dari Pelabuhan Ratu. Tadinya gue belom takut tuh, masih biasa ajah. Sampe akhirnya Bima ikut nyerecos tentang dia yang pernah secara LIVE berhadapan face to face dalam jarak dekat dengan makhluk berambut panjang pas dia lagi tidur di kamarnya. Katanya Bima sih, serem banget. Dan gara-gara itu pikiran autis gue langsung nyebayangin tampang si makhluk serem. Monyong, kontan ajah gue merinding. Masalahnya, gue enggak suka ngomongin hal beginian, apalagi kalo lagi di tempat macem villa-villaan gitu yang notabene jarang ditempatin apalagi disholatin, malem-malem pula. Parno ajah, takutnya ‘penunggu villa’ yang kita tempatin tiba-tiba menampakan diri. Wakakakakaks. Gue udah nutupin kuping ajah sambil cengengesan bego. Mana si Assa sok-sok nakut-nakutin pula. Untungnya bukan Cuma gue yang ketakutan, Pemirsa. Arum juga mengakui kalo dirinya takut mendengar cerita-cerita setan yang lagi jadi hot topic saat itu.
Gue: “heh, jangan ngomongin ginian lagi siiiiihhh, takut nih gue, mampus ajah.”
Arum: “tenang ajah, ta. Gue juga takut, kok *senyum miris*”
Gue: *nelen ludah*
Enggak lama, Dani nongol (masih dengan sarung) dan begitu tau kita lagi ngomongin topic setan-setanan, pandangannya langsung tertuju ke arah gue yang lagi nutupin telinga sambil nyengir. “Lha, si shinta ikutan juga,” kata dia sambil masang tampang jail jijay. Apa maksud sih? Sialan. Gue tau tuh dia mau sok-sok nakutin gue juga kayak si Assa. Bangke.
Terus.. terus.. obrolan beralih ke villa di bagian atas lahan villa yang kita sewa. Katanya waktu survey ato kapan gitu, si Bima ngeliat bayangan orang di villa itu (percaya ato kagak, gue merinding ngetik ini. Kampret). Nah, Manche yang notabene sok-sok berani bilang ke gue,
Manche: “Enggak apa-apa kok, ta. Enggak ada apa-apa. Kalo perlu gue ke sana sekarang.”
Gue: “Ah, ngomong doang luu.”
Manche: *merasa gak terima dikatain gitu* “Ih, bener. Yaudah gue kesana.”
Gue: “Eh, gila. Jangan, ah. Udah malem.”
Manche: “Enggak apa-apa..*ngomong nenangin ala sinetron*”
Akhirnya, Manche dan Bima (si Bima sok-sokan berani juga tuh) keluar dapur dan jalan menuju lapangan basket. Gue udah lirik-lirikan ajah sama Arum sama Andy.
Gue: “Manche gitu deh dia.”
Andy: “Tau, nekat”
Arum: “Dia kan emang gitu.”
Gue: “Ho oh, ditantangin malah makin jadi.”
Gue, Arum, Andy: *geleng-geleng kepala*
Dan kita pun masih memperhatikan dari dalam dapur. Sepengelihatan gue, Manche sama Bima Cuma muter-muter di lapangan basket doang sih, kagak beneran nyamperin ke villa yang bersangkutan. Malahan menurut pengakuan Manche sepulang dari villa, Bima memanfaatkan momen tersebut untuk menyuruh Manche mengirimkan video waktu gue diceburin ke kolam sama anak-anak via Bluetooth dengan niat untuk mempermalukan gue. Kampret, kampret.
Oyaah. Malem itu dari jam 12 malem, Tomo dateng ke villa kita dan nemuin Ulpi karena notabene perpisahan anak 1IA02 juga masih berlangsung saat itu *halah bahasa gue*. Nah, setelah ngobrol berduaan mereka nyamperin kita-kita di dapur dan ikutan ngobrol sampe si Tomo balik lagi ke habitat aslinya bersama para makhluk kipik laennya. Hohohoho. Sementara itu, ketiga petinggi Boteng juga minta izin keluar—gak jelas mau ngapain. Heran, deh, gue. Mereka mau nyari tempat untuk tidur? Halah, lebay. Udah nyampe villa mah padahal ikut tidur sama ikut makan ajah sekalian. Pake malu-malu kucing. Enggak apa-apa inih. Hahay.
Udah, tuh.
Kita pun ngelanjutin ngobrol sampe sekitar jam 3 ato jam 4an gitu. Sempet menaruh iba sama Erwin yang tampak depresi saat itu. Bayangin, Pemirsa. Si Erwin minum kopi mulu sambil nunduk-nunduk enggak jelas. Terus pas lagi nuangin Aqua, gayanya kayak lagi nuangin bir di pelm-pelm yang pemeran utamanya ceritanya lagi mau mabok-mabokan. Aqua doang, padahal—plis deh. Cara minumnya juga… beuhh. Minum satu isep, nunduk sambil muter-muterin gelas. Minum lagi, terus gelasnya diputer-puter lagi. Najis, gayanya kayak Tao Ming Se abis diputusin sama San Chai. Diledekkin sama anak-anak, malah senyum terpaksa gitu. Alamaaakk Erwin, kisah cinta lo dimasukkin ke sinetron manaaa? Alay banget. Wkakakak. Sementara itu.. di dalam kamar, konon katanya Saudara Domas sedang sibuk nepokkin nyamuk yang mengganggu tidur Kanjeng Ratu Inez yang lagi kurang enak badan. Dudududuuu. Bae banget sih, Dom? Terlalu bae apa emang takut sama Inez? *ditabokkin*
Daan akhirnya… Sleeping Timeeee~~ Cewek-cewek langsung masuk ke kamar dimana Inez Chan (ceweknya Adom—red.) udah tidur duluan. Gue, Arum, Ulpi dan Manche pun nyari posisi enak buat tidur, walaupun akhirnya harus puas dengan posisi seadanya. Dan btw, gue tidur pake bantal sofa—wanjreds, sakit leher gue. Okeh, jadi.. adapun posisi tidur kita itu adalah seperti ini:
Ulpi || Shinta || Arum || Manche || Inez
And you know what? Gue sama Arum BERSYUKUR GILA-GILAAN karena Ulpi enggak tidur sebelahan sama Manche! Soalnya, ya, Pemirsa, mereka itu ngomong mulu, sumpah. Bawel banget. Segitu ajah udah dipisahain sama Arum dan gue, tapi mereka malah ngobrol terus. Malahan Manche masang gaya aneh ala putri duyung supaya bisa ngobrol sambil ngeliat muka Ulpi. Idihh, segitunya. Akhirnya, Arum sama gue Cuma bisa “Ssssttt” sepanjang malem sampe ketiduran. Inez Chan, maaf yah kalo kita berempat berisik :( :( padahal kan dikau lagi sakit. Huhuhu. Salahin manche sama Ulpi noh. Ngomong-ngomong, Ulpi songong dah pake tiduran di pundak gue. Berasa pasutri ajah gue sama dia. Hooekks.
Kompleks Villa Tirta Nauli
Puncak, 7 Juli 2009
Gak-Usah-Pake-Jam-Dah
Puncak, 7 Juli 2009
Gak-Usah-Pake-Jam-Dah
Jam enam pagi, itu tepatnya jam gue bangun. Kebangun, lebih tepatnya, gara-gara Arum udah enggak ada di sebelah gue. Pas gue nengok, enggak taunya dia lagi ngegeser salah satu sofa buat didempetin sama sofa yang laen biar jadi panjang, terus dia lanjut selonjoran di situ. Ckckck. Kasian gue liatnya. Gue sempet ngomong apaaa gitu sama si Arum, tapi gue lupa. Masih ngantuk soalnya. Yaudah, ngelanjut lagi dah gue tidur barengan sama Inez, Manche sama Ulpi yang masih pules tidur tanpa dosa. Enggak tanpa dosa juga sih, si Ulpi berdosa banget tuh sama gue gara-gara menguasai selimut sendirian. Dingiiiiiiiinnn abis kaki gue gara-gara kagak kena selimut.
Setelah lanjut tidur sebentar, gue pun bangun sekitar jam delapanan. Huekekekek. Langsung menuju dapur dan ngambil teh anget. Enggak lama, Manche dan Ulpi pun bangun dan nyusul ke dapur. Rupa-rupanya, sudah ada Erwin dan tampang kusutnya. Ckckck. Masalah cintanya masih belum selesai juga. Padahal ya, Pemirsa, kita-kita udah ngusulin dan berbaik hati minjemnin telepon buat Erwin nelepon ceweknya dari semalem. Tapi ditolak! Oh em jiiiiiiiihhh. Kata Erwin sih, biarin dia ngomong langsung ajah kalo udah ketemu sama ceweknya. Well, yaudahlah. Kita juga enggak bisa ngomong apa-apa. Mungkin Erwin mengira ceweknya bakal langsung menggelepar dan memaafkan dirinya begitu ceweknya mendengar suara sexy nan garang milik seorang Erwin Sunarya. Iiiihh wuuaaaawww..
Setelah mandi (lagi-lagi gue mandi bareng Manche dan Ulpi), kita siap-siap buat sarapan. Kalo Anda menerka bahwa kerjaan favorit kami selama di vila adalah makan, maka Anda berhak mendapatkan payung cantik. Huahuahahaha. Enggak percaya? Well, selaen nasi dan lauk, silakan itung berapa banyak bungkus mie yang ada di tempat sampah setelah kita nginep di villa itu. Mie itu bagaikan cemilan buat kita. BWAHAHAHAHAHA. Kalo kata Saykoji itu ‘siang malam ku selalu menatap layar terpaku untuk online, online’, nah buat anak-anak yang ikut perpisahan, lagunya diganti jadi ‘siang malam ku selalu menuju dapur bermaksud untuk masak mie, masak mie~~’ *dilempar sandal jepit* Apalagi Assa sama Bima. Itu orang dua kalo soal makanan—beuh, kompaknya enggak ketulungan. Enggak bisa dipisahkan dah. Bagaikan topeng monyet dan pawangnya. Fufufufufu. Pikir sendiri siapa yang jadi monyet dan siapa yang jadi pawangnya.
Oke, kembali ke topik.
Err—sampe mana tadi?
Oh, iya. Sarapan. Yap, kita sarapan lagi pake ayam, sambel. Dan kami mendapat tambahan makanan berupa Chicken Nuggets yang dikasih Assa. Wakakakaks. Pantesan ajah tas dia gueede—ternyata dia bawa bahan makanan sendiri. Ckckckck. Eits, eits. Jangan pada komentar aneh-aneh dulu, ya. Biarpun kehidupan kami miskin Cuma makan kayak gitu doang, tapi kalo lo mau tauu, rasanya tuh mantep banget, boy. Bukan karena Erwin jago masak sih, tapi lebih karena kita emang pada kelaperan dan kekurangan makan plus bosen makan mie mulu *ditabok Erwin* Nyahahahaha. Intinya? NIKMAT. Hajar, bleh.
Setelah makan, kita pun packing buat cabut dari villa karena kita harus udah check out jam 1 siang (FYI, kita beres sarapan kira-kira pukul 11.00-11.30an gitulah). Selama packing itu, Jay duduk di beranda luar sambil nyanyi-nyanyi pake gitar. Gue yang notabene udah beres packing agak-agak gimana gitu ngedengernya. Soalnya bisa dibilang keren juga ngedenger si jay nyanyi begitu, secara lagunya tuh yah lagu-lagu average beat yang pas banget buat suasana perpisahan. Enggak tau deh ya anak-anak pada ngedengerin juga apa enggak, tapi gue ngedengerin banget tuh si jay genjrang-genjreng. Rasanya gimaaanaaa gitu. Sedih sedih alay—karena well, yeah.. emang dari awal gue masih belom rela pisah kelas sama Nanonine. Apalagi kalo ngeliatin anak-anak yang lagi sibuk packing. Dalem pikiran gue, “Anjing, beneran detik-detik terakhir nih. Naek motor, pulang, libur panjang dan kita belom tentu sering ketemu lagi.” Tiba-tiba ajah perasaan gue campur aduk antara terharu, seneng, enggak rela, sedih dan pengen boker *lho?* *dilempar ke jurang*
Hayah, udah ah stop. Lebay nih gue.
Yah, pokoknya gitulah.
Abis itu, sementara para pria sholat dzuhur, para wanita malah menapakkan jejak keeksisannya dengan berfoto-foto di taman bermain mini yang notabene masih termasuk fasilitas villa yang kita sewa. Hihihihi. Bahkan yang beres-beres dapur dan yang buang sampah pun anak cowok. Kita, anak cewek, masih betah foto-foto ditemani Dani yang mendadak jadi tukang foto eceran. Huakakakaka. Sayangnya Dani agak kurang professional, Sodara-sodara. Dia enggak bisa nentuin tempat mana yang potensial untuk dijadiin tempat foto dan mana yang enggak. Buktinya, foto yang dihasilkan hampir selalu agak-agak gelap karena kita berada di tempat yang salah dalam hal pencahayaan. Fotonya sih tetep bagus, tapi yah—itu berkat para model-modelnya yang aduhai asoy geboy.
Setelah semua beres, kita pun ngunci villa. Sebelom ke motor, kita sempet salam-salaman gitu deh. You know, macem ‘makasih, yah’, ‘maaf kalo selama ini gue blablabla..’, ‘entar kalo pisah kelas jangan belagu yaaa..’ dan ‘entar tetep maen bareng yaaa..’ gitulah. Hiks. Sedih. Monyongnya lagi, si Jay nyanyi lagi sambil maenin gitar.
'—bersenang-senanglah
karena hari ini yang kan kita rindukan
di hari nanti
sebuah kisah klasik untuk masa depan
—bersenang-senanglah
karena waktu ini yang kan kita banggakan
di hari tuaa
—Sampai jumpa kawanku,
s’moga kita selalu
menjadi sebuah kisah klasik
untuk masa depaan~~’
Nguks. Jadi sedih deh. Pengen gue rebus si Jay rasanya. Heheheh. Enggak, ding, Jay. Keren kok, Jay, keren. Setidaknya elo berjasa membuat suatu momen di acara perpisahan kemaren yang beneran berasa kayak ‘perpisahan’ *susut umbel terharu* thank youu—walaupun telat sih, seneng-senengnya udah dari kemaren. Wakakakak.
*gebrak meja* ANYWAAAAYYYY~~ cukup sedih-sedihannya.
Kita pun cabut dari villa dengan pasangan motor yang berubah karena 1) gue harus balik ke Depok dan enggak mungkin gue dibonceng Erwin dan 2) Ulpi turun di Cisarua, eh dimana yah? Lupa lagi gue. Intinya, akhirnya gue switch pasangan. Ulpi yang tadinya sama Dani jadi sama Erwin dan Dani yang tadinya sama Ulpi entah kenapa jadi berpasangan dengan Andreas. Dan gue pun ujung-ujungnya dibonceng sama Assa. Jay sendirian, sementara Koben dibonceng Gusti. Bima tetep sama Manche. Adom sama Inez, tentunya, dan Arum? Ya sama Andy-laaaahh.
Sip. CABUUUTTTTT.
Di tengah perjalanan, Bima sama Adom berhenti di pasar Cisarua buat beli oleh-oleh enggak tau apaan, karena gue sama Assa cabut duluan bareng Arum sama Andy. Kalo si Assa sih gara-garanya pengen beli Roti Unyil Venus buat oleh-oleh. Tapi kalo Arum sama Andy mungkin karena udah mabok, jadinya pengen cepet-cepet pulang. Muahahahahah. Sekedar pemberitahuan ya, Sodara sekalian. Perjalanan pas udah di daerah Tajur sampe deket Ekalokasari itu PANAS MAMPUS. SUMPAH, PANAS! Kagak pake boong, gue. Matahari tuh berasa deket banget—kagak pake lebay. Hal tersebut memang kenyataan, fakta. Gue udah lama pulang ke Bogor apa ya? Baru tau gue kalo Bogor bisa sepanas Gurun Sahara kayak gitu. Ckckck.
Setelah Assa selesai beli Roti Unyil, perjalanan pun dilanjutkan. Bogor-Depok? BEUH, SAMA AJAH PANASNYA, MEN! Sumpah, mabok gue, maboookkkkkkkkk. Muka gue berasa lagi diasepin gituh. Wakakaka. Selama perjalanan, gue sms manche. Katanya dia juga masih di perjalanan. Mungkin motor Bima ada di belakang motor Assa sejauh beberapa mil *eaaa, lebay lagi gue* Yaudah, deh.
Guys, enggak bisa banyak yang bisa gue certain di sepanjang perjalanan balik karena gue ma Assa pisah sama rombongan dan JELAS sekali kalo sepertinya gue terlalu mabok buat merhatiin jalan sekitar.
Kostan Shinta Vazriana
Depok, 7 Juli 2009
Sekitar Jam 14.00-15.00
Depok, 7 Juli 2009
Sekitar Jam 14.00-15.00
A-akhirnya nyampe juga di depan kostan gue *pingsan*. Yaudah tuh, gue langsung turun diiringi dengan tatapan aneh dari Bu Gofur (istri penjaga kostan gue—red.) yang jelas menaruh kasihan pada keadaan gue yang seperti gembel terlunta-lunta. Gue kasihin kotak Roti Unyil yang dibeli Assa ke Assa-nya *yaeyalah* terus pas gue liat—WAKAKAKAKAK, MUKANYA KUCEEEELL! Sepertinya bukan hanya gue yang mabok, Sodara-sodara! Muahahahahah,
Gue: ‘Jiah, dia mabok juga..*ngikik-ngikik*’
Assa: ‘………….*diam tak berkutik*’
Kaaaann! Berarti beneran mabokkk! Muakakakakak~~ Gue pun ngucapin makasih atas tebengannya terus si Assa langsung ngacir pulang. Oh, ya. Sebelom si Assa balik, Bu Gofur bilang ke gue kalo ada temen gue yang pake motor nyariin. Gue pikir Manche sama Bima yang udah nyampe duluan. Pas gue confirm ke si Ibu:
Gue: ‘Temen aku yang mana, Bu?’
Si Ibu: ‘Yang pake motor’
Gue: ‘Hah? Yang cewek? Yang ada poninya? Yang biasa maen sama aku?
Si Ibu: ‘ Enggak tau, deh. Tapi iya.’
Gue: ‘Ohh.. Berarti si Manche udah nyampe duluan sama Bima *ngangguk-ngangguk*’
Pembicaraan selesai, Assa pulang dan gue duduk menggelepar kepanasan di teras kostan gue—nggak ada tenaga buat naek ke kamar atas gue. Bu Gofur pun nanya-nanyain gue abis dari mana, acara apa, gimana acaranya, itu tadi yang ngeboncengin siapa de el el. Beuh, berasa lagi diintrogasi sama emak gue. Wakakakaka. Emak gue ajah enggak segitunya. Tapi well, akhirnya Si Ibu pun memberikan saran untuk beli minuman ke Bude (kantin makan deket kostan gue—red.) karena gue ngeluh tenggorokan gue sakit. Bude yang juga lagi ada di situ juga nyuruh gue buat ngelakuin hal yang sama. Tadinya mau pesen jus alpukat, tapi katanya abis. Yaudah gue mesen es jeruk ajah. Bude sempet nanyain, “Jeruk anget ajah ya?” Dan gue langsung menolak dan dengan napsu berteriak, “KAGAAAAKK! MAU YANG DINGIN, BUDEEEE~~” Haduh, durhaka gue. Maap ya, Bude. Abisnya, gue lagi kepanasan gitu.. Masa iya gue mau minum yang anget-anget? Enggak sekalian ajah gue mandi aer mendidih biar nyaingin kepiting rebus.
Gue pun minum Es Jeruk gue dengan khidmat dan desahan ala iklan Adem Sari sampe tiba-tiba si Dani muncul. Uwoohh.
Si Ibu: ‘Nah, itu tuh yang tadi nyari kamu, Shinta’
Gue: ‘*cengo* Lha ini mah cowok, ibu. Enggak punya poni, lagian.’
WAKAKAKAKAKAKAKAKAKKKKK! DANI, ELOO DISAMAIN KAYAK MANCHE SAMA BU KOST GUEEEE~~ *ngakak gegulingan*
Dani pun akhirnya ikutan duduk di teras kostan gue, Pemirsa yang Baik. Yaudah, sekalian ajah gue suruh dia pesen es jeruk karena gue adalah gadis yang baik dan budiman. Katanya, tadi dia ngeliat gue sama Assa masuk ke arah kostan, manggil-manggil pula, padahal dia lagi di Esther. Tapi gue sama Assa enggak ada yang denger. Munyakakakakak. Dia ceritanya lagi nungguin Tomo gitu. Soalnya Tomo enggak bawa motor ke puncak dan mau pulang bareng sama Dani.
Si Dani pun mulai merendahkan anak-anak yang laen—betapa leletnya kita karena katanya dia udah nyampe daritadi. Beuh, kipik. Laganya selangit. Nyahahaha. Katanya lagi nih, Pemirsa, malahan dia udah nganterin si Andreas sampe ke daerah rumahnya gitu (yang baru-baru ini diketahui bahwa itu adalah BOHONG. Si Andreas Cuma dianterin sampe PAL). Ckckckck. Enggak penting, ya? *disepak Dani* Udah gitu, si Dani curhat tentang betapa kipiknya Andreas yang sepanjang perjalanan malah asyik tidur. Mwahahahahah. Kasian deh lo, Dan.. xixixixi.
Tidak lama kemudian, Tomo dateng dan disusul dengan kedatangan Bima dan Manche yang nyampe dengan sempoyongan. Syakakakak. Manche keling banget sumpah. Kebakar matahari abis-abisan dia, Pemirsa. Manche yang biasanya tahan banting sekarang mabok parah. Akhirnya mereka gue suruh pesen es jeruk juga. Manche kasian banget sumpah. Badannya panas dan langsung nyungsep tiduran di kaki gue. Yaelah, enggak usah segitunya kali sama gue, Che. Nyahahaha.
Bima pun ngeluh-ngeluh panas. Malahan dia sempet cerita kalo ternyata dia dan Adom sempet nyasar. Watdehek. Jadi gini. Kalo lo tau daerah sukasari-tajur di Bogor, itu ada yang namanya Puteran Ekalokasari. Nah, kalo mau ke arah Depok, bakalan JAUH lebih deket kalo lo ambil arah kanan yang ke arah Terminal Baranangsiang. Sayangnya, dengan odong Bima dan Adom malah ngambil kiri ke arah Batu Tulis-Bondongan. Jadilah mereka pake muter dulu lewat Batu Tulis, Makam Pahlawan Dreded, Empang dan BTM *jah, berasa tour guide gue* Ebujug, mampus jauh. Nyahahahah. Untungnya mereka ketemu Erwin lagi (tadinya kepisah) dan kemudian Erwin pun mengarahkan Adom dan Bima kembali ke jalan yang benar. Ckckck. Seharusnya sekalian ajah sujud syukur sama tobat Nasuha *diketekin*
Dan yeah, well, mereka sampe juga ke Depok. Adom kembali ke kostannya sebentar sementara Bima dan Manche ngedeplok dulu di kostan gue. Manche udah tepar parah. Bima masih sempet-sempetnya nanyain teknis pemakaian Forum Nanonine yang NAJES-SEPI-BANGET-DIGUNAIN-NAPA. Singkat cerita, Bima, Dani sama Tomo pun pamit mau balik. Dadah-dadahan, dan akhirnya tinggal gue berdua sama Manche. Gue pun nganterin Manche balik ke kostannya karena dia keliatannya mabok separah-parahnya mabok.
Udah gitu.. Well, anggep ajah selesai. Hahaha. Sengaja gue ceritain bagian yang anak-anak pada nongkrong bentar di kostan gue karena gue mau nyeritain perjalanan Dani-Andreas dan Bima-Manche secara otentik. Secara ajah gitu kan, gue adalah seorang reporter yang kompeten dan interpreter *lho?* Hohoho. Enggak mungkin gue ngelewatin bagian dimana Manche yang jagoan NTT sampe mabok kayak gitu *dicakar Manche*
Well, overall, gue sih ngerasa kalo acara perpisahan Nanonine ini terbilang cukup sukses walaupun dengan banyaknya halangan dalem prosesnya dan sedikitnya orang yang berpartisipasi dalem acaranya, Pemirsa. Gue pribadi puas dan seneng karena ikut dalem acara ini. Sumpah, asik banget kalo nginget betapa banyak hal yang kita lakuin dan obrolin barengan melebihi apa yang pernah kita lakuin di kampus dalam waktu dua hari semalem—noh, dapur jadi saksi bisu. Kalo di kampus kan banyak banget hal-hal yang bikin kita enggak konsen untuk spend time together kayak gitu. Maen CS-lah, ngerjain tugaslah, ngobrol sendiri-sendirilah, nagihin pulsalah dll dsb. Tapi pas di puncak kemaren, ya walaupun dikit tapi kebersamaannya udah jauh meningkat. Tau deh anak-anak yang laen, tapi gue ngerasanya gitu. Sayang ajah yang laen pada enggak bisa ikut, ya? Padahal gue juga pengen banget ngabisin waktu bareng-bareng mereka-mereka, semua elemen dari Nanonine, tanpa kurang satu orang pun mengingat kalo di kampus kita suka ngobrol sendiri-sendiri daripada barengan. Nyesel, guys, kita kehilangan waktu buat lebih deket lagi *cengarcengir* Hehe. Next time kali, ya? Pokoknya kalo laen kali ada acara ngumpul lagi, kalian enggak boleh ngasih alasan apapun! HARUS IKUUUTTT! *asah samurai* Hehehe.
Umm.. Sekedar ngasih tau ajah walaupun enggak penting. Kata orang, yang namanya ‘temen’ itu selamanya ‘temen’. Enggak ada istilahnya ‘bekas temen’. Dan temen enggak perlu alasan kalo cuma mau ngobrol atau nanya kabar. Dan yeah, guys, kalo kalian mau ngapain kek—minta tolong—curhat—smsan enggak penting—mau minta tolong—jalanjalan tapi enggak ada temen—nanya kabar—ato apalah.. nanya ya nanya ajah. Sms ya sms ajah. Telepon ya telepon ajah. Dateng ya dateng ajah ke kostan ato ke rumah. Enggak usah malu-malu. Enggak usah nyari alesan buat ngelakuin itu semua. Enggak usah ngerasa enggak enak. Selama kita temenan, enggak akan ada yang enggak enak. Selama bisa, selama mampu, selama ada duit, selama sehat, selama masih muda en gaol—ya pasti bakalan dijabanin. Hehehe. Itu kata gue, sih. Tapi gue yakin anak-anak yang laen pasti setuju sama gue. Right, guys?
*nyengir*
*batuk-batuk*
Baiklah, Pemirsa sekaliaaaaann. Tugas reporter kalian yang montok dan sexy ini udah selesai, lho, yaaaa… Walaupun lebih banyak yang lupa daripada yang ingetnya; walaupun lebih banyak cerita tentang guenya daripada yang laen—ya apa boleh buat. Ini kan cerita dari sudut pandang gue dan gue enggak ngikutin semua anak kemana-mana cuma buat dapetin detil cerita *pembelaan enggak penting* Wkakakakak. Yang penting, buat yang ikut, kalian bisa inget-inget lagi acara perpisahan yang kemaren dan syukur-syukur ngoreksi tulisan ini kalo gue ada salah inget ato salah ketik (gue sih yakin banget ada yang salah, gue pelupa. Nyahahahah). Buat yang enggak ikut, yaa.. setidaknya kalian bisa tau ajah selama perpisahan kemaren kita-kita ngapain ajah. Enggak jelas sih acaranya, tapi well—cukup menghibur. Mudah-mudahan, sih, kalian jealous *dilempar ke jurang*
Yang jelas nih, ya.. NANONINE, kalian membuat tahun awal kuliah gue jadi tidak semenyeramkan yang gue pikir—malah terhitung menyenangkan. So thanks a lot! Hihihi. LOVE YOUUUUUU!! ♥
Because you once come and never leave
Because you smile and never ignore me
Because you paint my world with colors
And you clean all the mess I’ve caused
Because you hold my hand, make me understand
Because you tell me we’re forever friends
Because we share our laugh together
Because you make my days happier
Because I say there will be no goodbyes
Because there will always be you and I
You, you, you, you, you, you, you, you and you
You, you you, you, you, you you, you and you
You, you, you, you, you, you, you, you and you
You, you, you, you, you, you, you, you and you
Pleasure to know you
Pleasure to spend my time with you
I want you to know something true
that even we’re away, I always ♥ you, Nanonines! : )
mwah mwaaahhh~♥!
Because you smile and never ignore me
Because you paint my world with colors
And you clean all the mess I’ve caused
Because you hold my hand, make me understand
Because you tell me we’re forever friends
Because we share our laugh together
Because you make my days happier
Because I say there will be no goodbyes
Because there will always be you and I
You, you, you, you, you, you, you, you and you
You, you you, you, you, you you, you and you
You, you, you, you, you, you, you, you and you
You, you, you, you, you, you, you, you and you
Pleasure to know you
Pleasure to spend my time with you
I want you to know something true
that even we’re away, I always ♥ you, Nanonines! : )
mwah mwaaahhh~♥!
Shaz ♥ NANONINE!
1. Btw, segala pembicaraan yang ada di sini enggak valid yaa. Ada yang gue lupa gitu, jadi gue tambahin atau kurangin tapi intinya tetep.
2. Thanks buat Arum yang ngingetin gue menu sarapan sama makan malem waktu di Puncak. Wakakakak.
3. Kalo ada protes, koreksi, pujian atau hujatan, silakan langsung layangan ke saya. 28 pengacara saya siap melayani Anda. Wakakakak. Enggak, deng. Becanda.
4. Maaf kalo ada kata-kata gue yang menyinggung atau sebagainya. Bercanda ituh. Syahahaha. Peace out, guys!

0 komentar:
Post a Comment