CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »
Showing posts with label Meracau. Show all posts
Showing posts with label Meracau. Show all posts

Wednesday, March 14, 2012

Ini Cerita Gue, Bukan Cerita Lo.

*lirik post sebelumnya* Wah. Challengenya masih belom gue kerjain lagi, ngomong-ngomong. Masih Day One ajah. Hahaha.

Anyway, here I come again! Yeah, kali ini gue bukan mau ngerjain Challenge Day Two, tapi mau cerita ajah. Hari ini cukup random sih. Dari 4 mata kuliah, gue cuma masuk satu mata kuliah doang; itupun mata kuliah pilihan untuk semester ini. Pas mata kuliah wajin, gue malah cabut karena mau ketemu Ganesh di Margo City dan sekarang baru pulang. Selesai. Beres.

*hening*

*digampar karena masang postan gak mutu*

Gak, ding. Yang gue mau ceritain bukan itu. Gue cuma mau nyeritain betapa betenya hari ini karena suatu sebab. Kejadiannya dimulai saat gue membuka blog seorang kenalan gue yang isinya, well, bisa dibilang mirip dengan blog gue ini. Bukan, bukan dari segi ceritanya, tapi dari pemilihan kata-kata dan kalimat yang dipakai oleh orang tersebut di blognya. Beberapa bahkan ada yang sangat mirip—Ganesh (gue sempet nunjukkin blog yang bermasalah tersebut ke dia), Ditha dan Marion pun bilang  kalau saat dia baca beberapa postan di blog itu, dia ngerasa kayak deja vu dan langsung inget blog gue. So, that means it's not just me, right? 


I know, I know. Gue gak bisa mengklaim suatu gaya bahasa—bahkan gaya bahasa gue sendiri dibentuk dengan berbagai pengaruh dari gaya bahasa orang lain. Gue juga gak bisa meng-hak-paten-kan suatu kalimat yang gue rasa pernah gue gunakan sebelumnya. Banyak orang di dunia menggunakan kalimat yang sama setiap 3 detik sekali dan gue juga gak sebegitu bodohnya untuk gak mengetahui hal itu. Gue juga enggak mau dan gak bisa mendeklarasikan kalau gaya menulis gue adalah orisinil karena God only knows seberapa persen kerorisinilan gue ketika membandingkan dengan banyaknya buku/cerita/artikel yang gue pernah baca; yang setiap rangkaian kalimat di dalamnya kerap kali menjadi pengaruh, inspirasi dan motivasi gue untuk mencoba menulis. 


"Orisinil buat gue adalah ketika lo bisa menulis sesuatu yang lucu tanpa pernah membaca humor. 
Orisinil adalah ketika lo bisa menulis sesuatu yang menyedihkan tanpa pernah membaca tragedi.
Orisinil adalah ketika lo bisa menulis sesuatu yang romantis tanpa pernah membaca tentang cinta.
Orisinil adalah ketika lo bisa menulis sesuatu yang memuakan tanpa pernah membaca tentang kebencian.
Orisinil adalah ketika lo bisa menulis sesuatu yang kasar dan menyakiti hati tanpa pernah membaca tentang kemarahan. "


Dan faktanya adalah, tidak ada sesuatu pun ciptaan manusia yang benar-benar orisinil; yang benar-benar datang dari diri sendiri. Atau, salahkah gue?


Dengan segala kata-kata gue di atas, seharusnya gue hampir tidak punya hak untuk menghakimi si pemilik blog ini. Tapi gimana, ya—it just not feels right. Orang ituwalaupun sedang merasakan hal, mengalami kejadian atau melewati fase yang sama seperti yang gue pernah alami—seharusnya tidak menggunakan kata-kata yang sedemikian miripnya, kan? Iya, kan? Biarpun gue mendapat pengaruh besar dari setiap literatur yang gue baca, gue selalu berusaha untuk tidak meniru. Dan biarpun sedikit dan lambat, tapi gue yakin kemampuan merangkai kata-kata gue sekarang lebih berkembang dari titik awal gue mulai menulis walaupun tidak bisa dikategorikan 'bagus'. Gue belajar memutar kata dan menjungkirbalikkan tanda baca. Sedang dan masih akan. Dan dengan kejadian ini, entah kenapa gue merasa dicurangi.


Mungkin gue akan bersikap cuek dan gak buang-buang waktu untuk merasa kesal kalau gue gak kenal siapa pemilik blognya. Nyatanya, gue kenal—dan gue tau dia beberapa kali pernah mampir ke blog gue. Inilah masalahnya. Hal ini, nih, yang bikin gue jadi suudzon. Haha. 


Well, gak ngerti juga deh. Gue gak ngerti kenapa gue post masalah ini di sini dan terkesan membesar-besarkan. Mungkin gue ajah yang lagi besar kepala dan kepedean. Mungkin gue belom siap famous (atau sama sekali belom pernah ngerasain famous) sampe-sampe hal skala cetek begini ajah dipermasalahin. Ah.. seandainya gue dari bayi udah jadi Hollywood's Favourite, pasti gue gak akan sok-sok-bete-emang-siapa-elo kayak gini. Gue bakalan kalem doang liat rambut gue ditiruin kayak Rihanna, Jessie J dan Katy Perry. Gue bakal cuma senyum maklum saat orang memakai pakaian-pakaian trademark gue, kayak Britney Spears atau Agyness Deyn. Gue bakal cuma tertawa kecil penuh pesona (shot) saat makanan favorite gue mulai diminati dan orang-orang mulai meng-quote kata-kata gue. Gue bakalan cuma bengong seksi saat gaya gue membunyikan huruf  'R' ditiru gadis-gadis remaja di seluruh dunia (penting abiiiiisss).


Yah, mungkin ini sebenarnya tidak penting. Mungkin ini hanya masalah seberapa besar kadar Drama Queen dalam diri gue. Mungkin ini hanya masalah tingkat kefamousan (apapula tingkat kefamousan) gue. Tapi ya sudahlah, ini bukan masalah lo. Ini masalah gue. Dan ini blog gue, bukan blog lo. Jadi mari kita sudahi saja segala racauan random ini dan memeluk guling (guling gue, bukan guling lo).


—ya sudah. Daaaaahh~ Da-daaaaahh~ DAAAAAAH~ DAAAA-DAAAAAAAAAAAHH~!

Saturday, February 18, 2012

Day 1 : 5 Basic Facts About Me

Okay, day one. It's been so long ago since I do this kinda stuff - Blog Challenge. Now I'm all excited and nervous at the same time. Hahaha. Oh, well. 5 Basic Facts About Me?

1. Fakta dasar - Identitas Gue.
Ngomongin fakta dasar ya berarti gak jauh-jauh dari identitas asli gue dong, ya. Secara kan identitas seseorang kan merupakan sesuatu hal yang gak bisa diabaikan gitu ajah *halah* Kalo lo pengen tau fakta-fakta tentang gue, ya berarti lo harus terlebih dahulu tau fakta kalo nama gue adalah Shinta Vazriana (penting gila). Umur gue 22 tahun. Gue cewek—asli beneran, gak ada campuran gender lain. Saat gue nulis ini, gue sedang akan menjalani (Insya Allah) tahun terakhir gue kuliah di jurusan Teknik Informatika suatu universitas swasta berkelas dunia di Depok. Apa nama universitasnya? Yaelah, lo scroll ke bawah ajah, baca postan gue sebelum-sebelumnya. Lo pasti akan menemukan suatu nama universitas tempat gue bernaung dan menuntut ilmu sekarang ini. Oh, bukan. Gue bukannya malu menyebut nama kampus gue. Gue cuma pengen lo pada baca isi blog gue ajah. Itung-itung promosi.

Anyway, nama gue itu asli dan satu-satunya. Dalam arti, itu beneran orang tua gue sendiri yang ngasih nama. Jadi, Insya Allah gue bukan anak pungutan dari mana-mana. Juga, gue bukanlah seorang agen mata-mata internasional yang mendapat identitas baru demi melindungi keamanan rahasia suatu negara. Memangnya Anda pikir saya siapa? Aktris laga di film-film spionase? *hehiniapaansih* Ya pokoknya begitulah. Saya mah cuma orang biasa yang hidupnya lurus-lurus ajah. Abis mau ngambil jalan hidup yang rada bengkok juga, takut kena azab ibu. Ya mending cari aman ajah—cari jalan yang lempeng ke surga.  Mudah-mudahan di sepanjang jalan menuju surga itu saya bisa sekalian ketemu pria ganteng nan soleh, berotot kekar, romantis, pintar dan punya tabungan di bank di swiss. Amin.

2. I ❤ Music
Seriusan, as for music, gak ada waktu yang gak tepat buat musik. Gue selalu dengerin musik kapanpun gue bisa. Saat gue seneng, bete, feeling dorky, jahat, empet, flu, perut kembung, mual, datang bulan, dizolimi pacar, menzolimi pacar *heh*—music  was there. Always. Bahkan kayaknya cuma musik doang yang punya magic power buat ngilangin bete atau kegalauan gue *eaaaa* I mean, gue itu orang yang sangat moody, lho. Kalo udah dicuekin, bener-bener suntuk gak ada kerjaan ato sedang terombang-ambing di dalam sebuah rencana-rencana tidak jelas yang direncanakan oleh orang-orang tidak kalah enggak jelas, gue pasti bakal langsung bete. Diem; tapi dalem hati mengobrak-abrik sesuatu *halah* Di saat-saat kayak ginilah, musik bekerja dengan cara sempurna buat gue. Saat gue sangat bete sampe nangis sekalipun, kalo udah dengerin musik, pasti langsung ilang betenya. Lupa keselnya. Dengan muka sesenggukan dan umbel tarik-ulur, gue pasti langsung dengerin ato sing along. Fail banget pokoknya—dari sedih durjana dan galau gundah gulana langsung nyanyi-nyanyi gak jelas. Anak kecil ajah masih punya harga diri; gak langsung diem kalo lagi nangis terus dikasih permen. Ini gue malah gampang banget. Emang, deh,  selalu kalah gue sama musik. Intinya, sih, musik punya peranan yang besar buat gue, tapi kalo dijabarin, bisa panjang. Maybe I’ll save it for another post.

3. Baca buku = heaven on earth!
As for books—man! Gue gak pernah bosen baca buku! Gue seneng BANGET baca buku. Orang yang kenal gue pasti tau kalo di waktu senggang, gue paling suka baca buku sambil dengerin musik. Kalo boleh milih, sebenernya gue lebih milih baca dibanding harus nonton film di bioskop, karaokean ato pacaran di malem minggu sekalipun. Emang, sih, buku yang gue baca cuma buku-buku fiksi yang ceritanya klasik dan ketebak banget alurnya, tapi buat gue, asyik ajah gitu baca buku. Gue bahkan gak bisa ngasih penjelasan yang lebih baik tentang how it takes you another place, to another time. You feel like you’re not in your own world anymore—you’ve travelled through time and space. Saat baca buku, lo bisa jadi sebebas apapun yang lo mau. Lo membaca cerita dan lo menafsirkan sendiri apa yang lo baca. Lo memperhatikan deskripsi si tokoh utama dan otak lo mulai berimajinasi, membentuk suatu visualisasi tentang bagaimana bentuk dari si tokoh menurut versi lo sendiri. Ato bahkan, lo mulai mencari titik-titik persamaan dengan artis-artis yang lo kenal dan mulai berfantasi melanjutkan cerita dengan si artis sebagai tokoh sentral cerita. It sounds mad, but it excites me. Selain menunda kerjaan, mungkin bakat alami gue adalah berkhayal. Mungkin itu sebabnya gue seneng banget baca buku. Karena bakat mengkhayal gue mencapai batas maksimumnya saat gue lagi baca buku. Hahahha. Buat gue, dari dulu deretan kalimat enggak pernah bikin gue pusing. Gue juga gak ada masalah sama membaca cepat. Entah kenapa, ya, gue pasti bisa menghabiskan buku setebal 700 halaman atau lebih dalam semalam kalo menurut gue ceritanya menarik. Dan gue bakal bisa langsung nyeritain ulang. Tapi balik lagi, ya semua tergantung jenis buku dan ceritanya. Kalo lo kasih gue buku Algoritma dan Pemrograman Dasar setebel 10 halaman, gue sih gak janji satu halaman pun bakal abis gue baca. Gue jual lagi yang ada. Haha.

Biasanya sih kalo lagi baca, gue udah siapin cemilan bejibun dan kunci kamar rapet-rapet. Kenapa harus kunci kamar? Yeah, well.. Walaupun gue gak ada masalah konsentrasi saat baca buku di tempat yang rame, tapi tetep ajah ya broooooo baca buku di tempat yang tenang itu adalah sesuatu yang mendatangkan kenyamanan. Sama ajah kayak boker. Gue yakin gak ada orang yang masalah boker di tempat umum, tapi toh tetep ajah, boker yang paling nyaman adalah boker di kamar mandi sendiri yang tenang gak berisik, kan? yah.. kurang lebih samalah.. *analoginyajorokbangetwoi*

4. Nulis/Blogging = Curhat = Pelampiasan.
Berhubungan sama baca, gue rasa udah suatu hal yang pasti kalo orang suka baca, pasti punya kemampuan untuk nulis—ato setidaknya, suka nulis. Dan karena gue suka baca, gue juga jadi suka nulis, deh. Blog ini (dan blog-blog gue lainnya yang nyampah di seluruh pelosok jagad dunia maya) dan RPGan di IH adalah salah satu contoh kecil dari bentuk kesukaan gue nulis. Nulis itu merupakan suatu ‘pelampiasan’ lain buat gue selain pup. Yeah, ibaratnya, kalo pup itu ‘pelampiasan’ secara fisik, kalo nulis itu ‘pelampiasan’ untuk emosi dan mental.

Gue rasa banyak alesan kenapa seseorang suka nulis, salah satunya mungkin karena saat nulis, lo berada dalam fase ‘memegang kendali’. Sama kayak baca buku, saat nulis, gue juga merasa bebas ajah. Bebas menentukan alur cerita. Bebas menentukan karakter. Bebas menentukan akhir. Saat menulis, I am the God for my own story. Bisa memungkinkan semua hal dilakukan dan bisa melakukan hal-hal yang bahkan gak wajar sekalipun.

Curhat lewat tulisan juga sama, bebas. Bisa tumpah semua tanpa gangguan. Gak ada interupsi (kecuali kalo lo udah pegel ngetik, itu lain soal).  Gue sendiri lebih milih curhat lewat tulisan, karena lebih bebas. Buat gue, curhat ke orang lain itu.. apa ya? Gak asyik ajah. Kadang ada rasa sungkan untuk ngasih tau semua detail masalah lo, karena saat lo mulai cerita ajah, kadang-kadang udah muncul delikan-delikan ngejudge ato pandangan-pandangan pengen tau yang jelalatan. Kesannya curhatan gue bakal jadi bahan gossip yang juicy banget. Honestly, it annoys me a lot. Gue paling gak suka deh dijudge—bukan berarti gue gak berhak dijudge juga sih, ya gue cuma gak suka ajah. Tapi seriusan, deh. Pas ada masalah, menulis dan dengerin musik adalah terapi yang paling jitu buat gue. Kalo belom nulis, dengerin musik sebanyak apapun juga gak akan begitu banyak membantu, karena masalahnya juga belom dikeluarin. Menulis ibarat mengeluarkan racun dari luka dan musik adalah antiseptiknya. Musik juga nutup lukanya--tapi kalo racunnya belom dikeluarin, lukanya gak akan pernah sembuh, kan?

Ya nulis bukan berarti selalu curhat, sih. Pelampiasannya bisa dalem bentuk wordplay juga. Ato bikin cerita. Gak melulu tiap bete gue pasti ngeblog menye-menye. Buat gue yang penting nulis dulu. Bentuknya apa, itu gimana ntar ajah. Bahkan kadang-kadang nulis satu-dua kata ajah udah bisa melampiaskan, kok. Menulis panjang itu masalah tingkat kepuasan nulis sama waktu yang tersedia ajah. Yang pasti, menulis jelas merupakan hal yang basic buat gue, walaupun gak banyak orang yang 'ngeh' :p

5. Procrastinator is.. ME. Definitely.
Oh, yeah. Gue procrastinator paling berkualitas di dunia. And not that I'm proud about that, tapi mau ngilangin sifat yang satu ini juga susah banget. Huh. Sebenernya, gue gak semales itu juga sih, sampe tiap kerjaan gue tunda *menyelamatkan sisa harga diri* Tapi ya enggak semua kerjaan langsung gue kerjaan tepat setelah baru dikasih juga. Sebagian karena, well, emang gue capek dan males. Tapi sebagian lagi mungkin karena gue punya sedikit sifat perfeksionis. Gue juga gak yakin sih sebenernya ini perfeksionis ato bukan, cuma sebisa mungkin gue pengen ngerjain sesuatu dengan gak setengah-setengah, cuma kadang waktu yang dikasih itu enggak cukup, jadi ujung-ujungnya pasti ngerjain seadanya karena kepentok waktu. Kadang kalo udah tau gini, gue juga jadi males juga kan ngerjainnya. Jadilah, semakin gue tunda-tunda. Hahahha. Alesan ajah ini gue :))





Anyway, udahan deh. Seadanya ajah. Sial, susah juga ternyata nulis panjang-panjang saat lo udah lama gak nulis. Dan SUSAH juga ternyata menjabarkan fakta tentang diri lo sendiri. Challenge yang menyulitkan, padahal gue yang ngusulin ngerjain challenge ini. Huh. Dan masih banyak challenge lainnya yang harus gue lakuin selama 14 hari ke depan. Watdefuuuuuuuuuudge~

Friday, January 8, 2010

Eh, Eh (Nothing Else I Can Say)

First of all, mari kita panjatkan puji dan terima kasih sebesar perut Doraemon kepada Lady Gaga yang judul lagunya―yang mana sangat ubercool sekali itu―sudah saya pinjam untuk judul entry saya dalam kesempatan kali ini.

Second of all, saya mau gunting pita sebelum mulai blogging.

CKRESS *gunting pita*

*terdengar applause yang meriah dan superlebay dikejauhan*

Baiklah, gue tadi iseng buka archieve wordplay lama, baru inget kalo pernah buat yang ini. Heuheu. Gak jelas, tapi rasa-rasanya pengen dipost ajah gitu. Syahahaha.

REASON SCHMEASON


If i dont tell you what's on my mind
Doesn't mean i don't believe you.

If i dont show you what i feel
Doesn't mean you're not special.

If i never cry on your shoulder
Doesn't mean you can't be my shelter.

It's not you, it's me. 
Because sometimes these thoughts are too private to be spoken. 
Because this feeling sometimes too strange to be described. 
And sometimes it'd better to keep the crystals for myself.

Because one of us should be the strongest. 
One of us should be the cure. 
And one of us should keep on smiling. 
And that'd be you cuz as long as you keep those smiles, I can get through anything and i'm gonna be okay.


Ea ea ea. Judulnya BARU BANGET gue buat. Gue tau gak nyambung, tapi daripada gak ada judul. Gorok siah ku aing lamun maneh pada protes! *digorok duluan* Ngahaha. Segini isinya udah diedit, lho. Aslinya 1.675.206 kali lebih lebay, aneh dan panjang dari ini. AYEYY. Eh, jangan terbawa suasana, ya. Itu cuma wordplay, Sodara-sodara. Saya mah enggak se-emo itu sebenernya *pasang tampang inosen* Btw, 'YOU' di sini itu ceritanya jamak, jadi jangan pada kege-eran dulu, nyahahaha *diinjek* I didnt dedicate it to anyone, just another random thoughts. UYE.

Udahan ah. Mau tidur. Besok gue UAS Struktur Data, tapi gak mood belajar. Baru balik banget nih gue―jadi masih capek dan gak tau kenapa, gue mual. So yeah, just wishing me the best for tomorrow. Coding blablabla is not really my thing, you know. As a matter of fact, i dont think i even have 'a thing'. Whatevs. Ditambah lagi, gue nawaitu-gak-belajar. Sudahlah, resmi sudah bahwa hari esok akan suram.

Wave Goodbyes,
SHAZ

Monday, December 28, 2009

Never There

where are you?
you said you will always be there
you said you will hear all the crap i say
you said you will always be around
you said you will always be with me through the highs and the lows

i put my trust in you
you give me hope

but
empty words
broken promises
darling, you were not there
and you are not here either
i'm looking everywhere
no, no, you're not there
you have forgotten
and thats okay

i know its not even real from the first place
you said it all, you broke it all
i'm a mess and i'm used to that
but i'll be fine

do not apologize
i'm the one who should thank you
you were the one who put hopes in my head
or should i call it 'dreams'?
because it never came to reality, anyway
but it made my day when you said like you meant it

...

yes, you were never there
you were too far away when i needed you the most
probably didnt even care
no surprise, who knows
and it's alright
i'm not gonna cry
i'm okay
and unlike you, i mean every word i say :)

Friday, November 27, 2009

Random : Ganti Layout Lagi!

Okay, somebody seemed to hack this blog *lirik-lirik orang yang bersangkutan* keterlaluan emang. Dan anyway, yang nge-hack malah ngepost program Bahasa C. Cacad.


ANYWAY, HALOOO! *cium-cium blog* Hadoh gue kangen banget update blog, tapi waktunya mepet-mepet banget untuk ngepost and I'm so sorry about that. Gue sibuk kuliah dan yang paling cihuy, gue sibuk maen. Tinggal ajah nih gue mampus pas hasil UTS dibagiin *nangis darah*


Btw, plis jangan seneng dulu. Gue cuma ngapdet ecek-ecek dulu kali ini, karena gue cuma mau kasih tau kalo gue ganti layout *tunjuk layout blog*. Gue bosen banget sama template yang kemaren dan karena gue sedang males berkutat dengan HTML dkk, gue pun memutuskan untuk mendownload template yang udah jadi ajah. Fufufufufu. Agak kurang sreg sih, tapi apa boleh buat. Gue males nyari-nyari, jadi gue cari yang agak mending ajah. Gue janji kalo gue udah ada waktu, gue rapiin lagi template yang sekarang. Okeh?


Leave you with such randomness,
SHAZ

Monday, June 8, 2009

License To Cry

Boleh gue nangis?

Boleh gue nangis, sekarang? Sekarang tinggal gue di sini―jadi, bolehkah?

Gue gak tahan. Gue gak bisa terus masang senyum tolol. Izinkan gue menangis sekarang atau gue akan meledak. Airmata gue tidak akan membasahi apapun. Isakan gue gak akan terdengar siapapun. Raungan gue tidak akan mengusik siapapun. Tidak kau, tidak pula mereka.

Karena gue akan menangis lewat kata. Lewat tulisan. Lewat setiap punktuasi yang gue letakkan. Simpel.

Hanya itu caranya, karena gue terlalu pengecut untuk berurai dalam nyata. Hanya itu caranya, agar gue tak terhina saat mereka tahu tentang fakta.

...
...

Bolehkah?

Terima kasih.

..dan airmata itu mulai mengalir.

Saturday, April 18, 2009

His Name is BUTUT =))

Hah!
It’s been a long time since I do this blogging thingy. Do I miss it? Literally, NO! lol. I’ve been so busy doing something else—actually not that important, but just busy—and kinda don’t have a time to write anything. I opened this blog so many times, clicked the new post button and then I just stuck. I just didn’t even know what word should I typed for the opening. Yeah, I know. I’m stupid. LMAO.

But here I am now. Laying on the floor in front of ‘Butut’. Lol. And in case you don’t know who or what butut really is—well, I’m gonna let ya know that ‘Butut’ is my laptop’s name. Sounds silly but that’s the fact. That was the first name which came up when Miru asked me my laptop’s name. By the way, Miru named her car as Rae and her laptop as Mac (cuz actually that’s the ‘real name’: MacIntosh. Lol) and suddenly I thought that maybe I shoulda give a name for my laptop, too. I was being spontaneous then I just told her that Butut was the name. Voila! I called it Butut ever since.

Speaking of laptop, I wish I could have my black Toshiba back. I just don’t understand why it can’t be repaired at all. Dad was going around to find someone who can fix it, but none. He brought it back to the Toshiba and they also said it cant be fixed after three days. But hello? It’s new, GODDAMIT! It’s new so it should be good elements inside of it. And that’s why they have to be able to fix it. They made it, why cant they fixed it? What’s actually the problem? Sigh.

It’s just now in my room, total Dead. Butut is fine, but I used Butut since I was in the Junior High and was so disappointed that I could not use the new one. I got my new laptop then it suddenly stop working—it’s sorta ironic. And pathetic.

Butut is fine, again. In fact, I’m glad that he could last this long, even longer than what I expected. I could type, I could go online with it, I could gaming (and I’ve won so many times because I play the same games like all the time. Haha xDxD~~) and the most important, I could listen to my playlist. Ha-ha. What will I be without my music? My point is, Butut is still useable and has everything on it that makes him a laptop. He’s ugly but he’s in a good condition.

But you know, there are several reasons why I actually think that his name is fit with his appearance.

1. when I say ‘Butut’ that means he IS BUTUT. Lol

The label and sticker was like awful. I was so stupid to glued those stickers on Butut that it is now looking horrifying.

2. I DROPPED IT ONCE! OH, wait. I think I dropped it twice. I don’t know. LMAO.
Yes, people. I ACCIDENTALLY dropped Butut about two years ago. I was so scared because I thought Butut would have some problems or could not be used ever again and surely my parent would be on fire if they found out—but the fact, he was just fine. I turn him on and it was like nothing happened. Isn’t that just amazing? *squee*

3. This is the most dramatic part: he is like ALIVVVEEEE~~E!
Okay, I lied. Lol. But I mean, Butut is soo mean. He always like suddenly turns off without any specific-and-reasonable-reasons-watsoeva or got stuck so I have to turn it off and start all over again. It’s fine if I am just listening music or gaming, but what IF I am on my way to finish my work? Like these stink reports that I gotta submit tomorrow morning? It took some minutes to turn it on again and those minutes are worth a lot to me IF I AM DOING MY WORK. Yea, you can tell. Whatev.

Oh, my. I start hating Butut AGAIN! xD~~ No, B. I love you. You’re my life. Lols.

so, so..

Just gotta say some words here that I really-really-really loves Butut—don’t matter what people say. Without my Toshiba around, Butut is the only thing I can rely on. I can’t imagine if I don’t have him, I could see that I’m gonna sit on the rent’s seat all night long, working on my report, alone. Gee, I’m being dramatic. LMAO.

So, how about yours, people? What’s his/her name? Or you want to say hi to my Baby B? Give your shout out on my Box, then. : )

Hasta La Vista,
shaz LOVES her life. And her Laptop. lol

Betapa Intimnya Gue Dengan Kesialan..

Okay. Harusnya gue nyeritain ini dari beberapa hari yang lalu, but somehow I just could not do it because some things needed to be taken care of and that was kinda important. Jadi gue baru sekarang, deh, gue mao cerita. Hehehe. Gak mau denger? Sono kelaut.

Ngomong-ngomong, gue punya teori baru sekarang *pasang kacamata item*

*tarik nafas*

JANGAN MENILAI SESUATU DARI LUARNYA SAJA
dan
KOMPUTER DI LAB 3A ITU MENYEBALKAN


*backsound: krik krik krik*

Oh, oke—gue jayus, gue ngerti, gue tau orang segede gue harusnya malu masih ajah bisa nge-jayus =)). Dan gue juga tau itu bukan teori orisinil gue, toh gue cuma nulis penyataan yang pernah gue denger sebelomnya doang. Wakakak. Tapi well, gue setuju sama kalimat tersebut. Sebelumnya.. emang sih, gue selalu melihat hala apapun atau orang dari penampilanya duluan. Ada orang yang penampilannya kayak begini, otak kecil gue langsung berspekulasi kalo sikapnya pasti kayak gini; penampilannya kayak begitu, pasti sikapnya juga begono. Gue mengotak-ngotakan orang; memberi label seenak udel di pertemuan pertama. Tapi beda kalo liat cowok cakep. Kagak pake spekulasi, yang ada kepala langsung nyut-nyutan, keringet dingin, mata melotot gak kedip-kedip, idung mimisan dan iler mulai mengalir dengan kecepatan arus yang tidak dapat didefinisikan. Terus kalo ada yang barang yang udah butut, pasti mikirnya itu barang udah uzur, udah gak guna. Hanya barang 'kinclong' yang bikin gue berpikiran positif *jah, kesannya matre*

But now, I’m starting to change my mind; trying to see everything from the other side. Dan itu karena suatu hal sederhana.

Mau tau hal apaan?

Beneran?

Yakin nih, mau tau?

SERIUSSS? *ditabok bolak-balik*


O-oke, gue mule cerita *ditereakin: JADI DARITADI NGAPAIN AJAH BARU MULAI CERITA SEKARANG??*

Umm.. mari flashback sebentar.

Kira-kira seminggu atau dua minggu yang lalu (seminggu sebelon ujian VB), semua anak TI angkatan gue gak mengalami yang namanya praktikum yang notabene harusnya kita lakuin seminggu 3 kali. Alesannya sih, karena Lab lagi ada perbaikan gitu. Gue mikir emang UDAH WAKTUNYA itu komputer uzur diganti semuanya karena FYI, itu komputer semuanya butut banget. Nista. Penuh cela; dengan layer cembung yang mengingatkan gue pada temen gue yang bodinya juga cembung depan belakang *dirajam* dan prosesor yang bikin setiap praktikan pernah merasa pengen bunuh diri atau ngebanting komputernya menjadi serpihan kecil minimal sekali. Intinya, sama sekali gak mendukung kiprah *halah* dan aktivitas kami sebagai anak TI-lah. Dan gue otomatis ngerasa lega karena akhirnya gak perlu ada lagi kasus komputer lemot, ‘Kak, di komputer aku aplikasinya gak ada, nih! Pindah ya!’, komputer mati sendiri dan gak idup lagi, serta lain semacemnya.

Gue pun melewati hari libur tanpa praktikum dengan tidur a la kebo dengan harapan ketika gue bangun dan masuk ke Lab TI pada pertemuan selanjutnya, Lab TI udah jauh lebih mewah dari kamar mandinya Obama.

Tapi ternyata..

Semua mimpi manis *tsaah* tersebut hanyalah fatamorgana, sodara-sodara. Lab TI emang berubah, tapi cuma MONITOR dan mejanya doang =)) =)) lumayan bikin perubahan drastis sih. Gue juga sempet shock gitu liat tampilan lab yang baru. Sekarang gue ngerti gimana perasaan para orang-orang beruntung yang Rumahnya Dibedah atau kamarnya di make-over dari bejat jadi asoi. Nyahahaha. Bayangin, karena meja yang digunain lebih ‘hemat-tempat’ dan karena adanya penggantian monitor-layar-cembung jadi LCD, otomatis ruangan jadi tampak JAUH LEBIH lega. AC pun jadi terasa JAUH LEBIH dingin dan Kak Indra Sang PJ Pascal terlihat JAUH LEBIH GANTENG (wakakakak~). Jangan tanya reaksi temen-temen gue, karena sejauh yang gue liat, PADA NORAK SEMUA! =)) =)) *ditabok rame-rame* Pada nista semuanya—ada yang ngeliatin LCD-nya sampe gak berkedip, ada lagi yang mengelus monitor di depannya dengan penuh kasih sayang; malah ada juga yang langsung mati suri ngeliat Lab baru *lebay*. Upil dan Manche mulai asik ngaca, sementara Ardi celingukan bingung kek baru pernah liat LCD *shot*; Opy cengar-cengir kayak orang sarap, sementara Koben pasang tampang kayak orang mau siap-siap ngegondol LCD baru itu buat dibawa balik *double shot* Syakakaka~ Baru liat anak TI norak kayak kita? Well, salahkan Gunadarma yang baru mengganti layar cembung menjadi LCD di tahun 2009 ini. Entah kapan inih kampus baru bisa nyediain laptop buat di ruang praktikum *diselepet tali rafia*

Tapi—AGAIN—euforia norak tersebut hanya berlangsung sebentar begitu menyadari bahwa yang diganti hanya monitornya o_0. Prosesor masih sama, walaupun tampaknya udah di-benerin-whatsoever. Tapi gapapa, toh komputer gue di LAB TI lantai 4 udah jauh lebih efektif daripada komputer sebelumnya yang notabene lemot itu. Dan gue gak terlalu mikirin masalah tersebut selama gak merugikan gue.

Tapi AJOJING.

Gue kena karma; gue disadarin dengan cara yang gak enak untuk akhirnya setuju bahwa penampilan sebagus apapun tidak menjamin keindahan apa yang ada di dalam *caelah bahasa gue -__________-;;*

Tanggal 16 April 2009 kemaren, gue akhirnya ujian praktikum Visual Basic. Dan yap, karena gue udah pernah dapet materi ini sebelumnya di SMA, gue gak begitu pusing mikirin sampe frustasi karena yang harus gue lakukan hanyalah membaca ulang, mengerti intinya dan I would be more than ready to face it. And actually, I didn’t really have any problem with those coding, I’m pretty good at memorizing the lines and that’s why I felt like everything would be just fine. Gue juga beranggapan, semua komputer di SEMUA lab TI bakalan jadi lebih oke setelah dibenerin; termasuk untuk komputer gue di Lab TI lantai 3—tempat ujian diadain. Jadi gue santai ajah saat masuk ke dalem LAB. But I was wrong.

T-O-T-A-L-L-Y-W-R-O-N-G.

*tarik nafas nenangin diri*

Setelah gue dan temen-temen duduk di tempat kita biasa praktikum, Kak Dito—PJ praktikum Vb untuk kelas gue—nyuruh kita untuk buka browser dan donlot materi ujian secara offlline. Udah gue donlot tuh dan—ASTAJIM—gue mau kentut ngeliat materi buat ujiannya. Jadi, semuanya disuruh ngebuat tampilan awal untuk login gitu, dimana kalo kita bisa login, kita bisa liat tampilan animasi moving text dan ada menu barnya. Kalo pada menu bar dipilih kombinasi, user bisa masuk ke program warna RGB, dll. Simple, sih, sebenernya; semuanya udah pernah dikerjain. Cuma gue langsung panik ajah ngeliat sebegitu bejibunnya kerjaan gue buat ujian kali ini. I mean, dengan waktu yang disediakan, gue gak yakin bakalan selesai semua, karena VB bukan Pascal atau QBasic yang cuma ngoding doang. VB butuh tampilan juga dan untuk orang yang mencintai desain macem gue, segala sesuatunya harus sempurna dalam hal mendesain. Jadi, dengan sifat bawaan orok gue yang panikan, gue buru-buru ngerjain itu ujian dengan sambil ngedengung ‘nanananana’ buat ngilangin nervous.

S.H.I.T

Belom lama gue ngerjain ujian, tiba-tiba muncul peringatan kalo memory komputer yang gue pake low. Gue klik OK, nothing happened, so I kept working on my job. Pas peringatan kedua muncul kira-kira 6 menit setelahnya, aplikasi Visual Basic gue ilang dengan sendirinya dan gue bahkan belom nge-save apapun. Gue ulangi, APAPUN. Penghuni kebon binatang pun langsung keluar semua dalem bentuk hujatan dan makian dalem hati ujiann bokk, bisa ditendang keluar Lab gue kalo tereak-tereak kesetanan di depan komputer gitu.

Gue narik nafas. Kemudian dengan manis dan emosi terpendam serta dengan lincahnya *lebayituindah* gue pun kembali membuka Visual Basic dan memulai semuanya dari awal. Sempet ada niat pindah komputer, sih, tapi dengan cuma satu lirikan ajah gue udah tau kalo gak ada komputer yang kosong di tempat yang strategis (baca: tempat kosong di deket orang-orang yang jago VB *nyengir*). Gue pun ngelanjutin kerjaan gue sambil lirik-lirik jam dinding di dinding *yaeyalah, jam dinding mah emang di dinding* *diketapel*

VB kebuka, tapi yang bikin jidat gue mengkerut adalah bahwa gak ada tulisan apapun di titlebar-nya. Feeling udah gak enak, cuma kalo gue pikir kalo gue minta pindah komputer, bakalan makan waktu banyak banget dari that was not even good option. Saat gue lagi asik ngoding—dan FYI, itu udah hampir 1/2 jadi; tinggal form2 dan 3—tiba-tiba komputer gue berulah. Kagak bisa di-run. Watdehek. Gue udah yakin seyakin-yakinnya kalo gue coding yang gue tulis itu bener dan kalopun ada cacat, gak mungkin sefatal itu sampe gak bisa di-run sama sekali. Gue lapor ke Kak Dito yang kalo diliat-liat ternyata oke juga *ditendang* dengan rasa cemas pangkat tak terhingga. Gue udah males bawaannya, apalagi pas Kak Dito nyuruh gue nge-restart komputer dan ujung-ujungnya bilang kalo kerjaan gue yang tadi udah hampir ½ jadi itu gak kesimpen. WTF? Gue udah simpen, sumpah demi Doraemon dah. Tapi akhirnya sia-sia. Sialan. Lab TI sialan. LAB TI SIALAAAAAANN~~ *guling-guling stress*

Kak Dito : Tadi udah banyak?
Gue : Yaaa.. lumayan.. *merasa sombong, jadi langsung diem*
Kak Dito : Lumayan apa nih? Lumayan dikit?
Gue : Iya, muakakak. Lumayan dikit, iya dah, iya. << gue iya-in ajah dah. Daripada gue bilang udah banyak ternyata gak taunya salah semua? Tengsin gue.
Kak Dito : Yaudah pindah ajah deh.


Mood? Ancur to the core.

Tingkat males? Tengkurep, tiarap, you-named-it.

Bete? Sangat.

Hasrat pengen bakar Lab TI? Maksimal.

Feeling nilai bakalan jeblok? You can tell.

Kelaperan? BANGET

Jadi apa yang sisa dari gue? Oh, yeah. Bayangan muka ngamuk nyokap yang kejem *diseruduk nyokap* saat nanti tau KALO seandainya nilai gue jelek banget *amitamitjabangbayi*

Untungnya Kak Dito baeek banget. Dia bilang gue bakal dapet dispensasi karena emang kesalahan system dan gue pun disuruh pindah komputer. Tadinya sempet mau duduk sebelah Arum (kan lumayan daripada mikir ulang, lebih cepet nyontek—wkakaka), tapi gak jadi karena komputernya sama ajah odongnya kayak komputer awal gue. Akhirnya gue dipindah di barisan di belakang Arum sama Koben (lumayan juga, kalo gak keburu tinggal nyontek juga *dihajar PJ Lab*), tapi ternyata setelah gue pake buat bikin desain di form awal, gue menyadari satu hal. KEYBOARDNYA BACUL.

Aaaaaaaaaahhh~~~

AAAAAAAAAAAAAAAAHHHH~

AAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH~

Huruf N, M, V, B, C, I, U, spasi dan semua angka gak bisa dipencet =___________=;;;;

….tolong jelaskan ke gue gimana caranya gue nulis 'UJIAN PAKTIKUM VB' dan nama gue kalo tombol-tombol itu gak ada yang bisa di pencet? Ngetik NPM gimana coba?

Gue teken-teken itu keyboard sampe kedengeran bunyi cetak-cetok dahsyat *lebay itu berpahala*. Nihil—yang gue dapet malah suara gaib yang bilang “itu tuh, keyboard ancur dah!”. Ha-ha-ha-ha.

Mas, Mbak, Tante, Om, Aki, Ninii.. saha we lah elu yang ngomong—

—ITU KEYBOARD EMANG UDAH ANCUR DARI SONONYAAAAA WOY!!

Astajim, luu pikir ngapain gue ngancurin keyboard saat gue BUTUH NGETIK coding segambreng?

Demi sinetron dubbing Indos**r yang alay, tobatt gua TOBAAAAATTT~~

Salah apa gue? *jedot-edot kepala ke tembok*

Mau tau ekspresi gue gimana?
=______________________________________________=”””


begitulah kira-kira cuman lebih cakepan gue. syakakak

Mood? Gak bersisa.

Tingkat males? Udah nembus tanah, bukan tiarap lagi.

Bete? Superrr.

Hasrat pengen bakar Lab TI? Membara.

Feeling nilai bakalan jeblok? Euh.

Tapi waktu itu gue udah peduli setan. Jelek, jelek dah. Kampret.

Akhirnya gue lapor Kak Dito lagi sambil ngegerutu stress. Gue yakin tuh, sebenernya Kak Dito stress juga—secara dia lagi ribet juga merhatiin anak-anak yang laen tapi masih harus ngurusin gue >.< Maap yee, Kak. Makanya laen kali jangan mau jadi PJ di Lab Butut keak gitu. Nyahahahhaha *ditampol Kepala Lab TI*

Singkat cerita, gue akhirnya dipindahin ke komputerdi kampus Kalimalang di barisan paling belakang. Hiks. Gak ada temen. Bete. Well, bukannya gue dari awal niat nyontek ato pekimane, cuma FYI ajah nih ya, gue baru dapet komputer yang bener itu SETENGAH JAM SEBELOM WAKTU UJIAN SELESAI! Sedangkan yaaampuntobatguetobat itu coding sama desain belom sama sekaliiiiii *nangis kejeer* Setidaknya, dengan waktu yang singkat itu, akan lebih efisien kalo ada orang di sebelah gue yang bisa gue liat codingnya dibandingkan kalo gue harus mikir dari awal sendiri (iyeeee.. gue tau tetep ajah niatnya jelek. Abisnya bete gue). Tapi ternyata seorang Shinta Vazriana sedang intim-intimnya dengan yang namanya kesialan; bagaikan monyet dan pawangnya sehingga akhirnya gadis 1m03t5 tersebut menjadi satu-satunya praktikan yang duduk di barisan itu. Ada sih orang di sebelah gue, Kak Arief—yang notabene mengingatkan gue dengan seseorang di SMA yang juga anak DKM tapi namanya lupa *dijitak*--tapi kan dia asisten lab. Masa iya gue contekin, lha orang dianya juga lagi meriksa LA.

Kak Arief : makanya Pj-nya dibaek-baekin..*ikut nimbrung setelah ngeliat betapa hebohnya gue gonta-ganti komputer*

Gue : iya..*sambil mantengin komputer tanpa gairah* *dalem hati : ‘lha emang apa hubungannya?*

Kak Arief : padahal gak ada hubungannnya..*lebih kayak orang ngomong sendiri daripada ngomong sama gue* << lha itu tau -___-;;


Gue kembali mantengin komputer. Dan ck, sumpah gue bingung harus mulai dari mana. Gue orangnya panikan. Apalagi dengan waktu yang terbatas begitu, gue beneran gak bisa mikir sama sekali. Mau ngerjain apa duluan ajah gue bingung. Akhirnya, gue ngedesain form pun asal banget dengan tujuan mau langsung ngoding setelah objek udah beres dibuat. Tapi ternyata, semua jajaran listing di kepala gue buyar semua. Kabur, ninggalin kepala gue kosong begitu ajah. Konsentrasi pun jangan ditanya, lenyap gak sisa. Kalo seandainya Deddy Corbuzier nyuruh gue bengkokin sendok dengan cara konsentrasi, gue yakin itu sendok kagak bakalan bengkok seumur idup. Gyahahhahah. Kekuatan mental dari hongkong, kekuatan mental gue ngilang gara-gara komputer Lab.

Gue pun men-klik Run.

Programnya gak jalan.

Kamprets.

Padahal, ya, itu yang gue kasih coding baru untuk label ‘End’ lho.. Yang harusnya, codingnya itu cuma ‘End’ atau ‘Unload me’ doangan.. Tapi.. Tapi.. Gak jalan juga? o_O;; Oh, men.

I-i-itu di komputer yang pertama tadi jalan semua coding untuk form pertama, tapi kenapa sekarang—

Ah, bodo ah, bodo. Bodo amat.

Gue beralih, kali ini coba ngetik koding yang laen. Dan ternyata gue terlalu panik + badmood bahkan untuk mengetik.

Gue : Aaaah! Ckk.. *teken-teken BackSpace, ngapus tulisan yang typo*
Kak Arief : *giggles* Makanya jangan panik..
Gue : abisnyaa.. Ah, aah..*tereak stress sambil terus ngetik*
Kak Arief : salah lagi tuh ngetiknya
Gue : Iya, tau.. AduhAduhAduhAduh.. Ck, salah molooo! Beteeeee~~
Kak Arief : Makanya tenang ajah
Gue : Gak bisa, Kak~ Nilainya gimana kalo tenang. Baru segini, nih.. Waktunya.. *lirik jam*
Kak Arief : Pusing, pusing.. Itu PJ-nya juga pusing kayaknya. Pusing mikirin mau ngasih nilai berapa *chuckling*
Gue : *liatin Kak Dito mondar-mandir* Hoo..*baru tau PJ juga puyeng ngasih nilai*
Kak Arief : Gue pernah dapet kelas ini gak sih?
Gue : Ngajar, maksudnya? Pernah, tapi ngegantiin siapa gitu waktu itu. Eh, btw, kok ini gak jalan ya, Kak? *muterin LCD*
Kak Arief : Ada yang salah itu..


Ngek. Saya juga tau, Kak, kalo ada yang salah mah -_-‘”, maksudnya bantuin ngebenerin napa : ((

Kak Arief : Shinta.. Shinta.. *baca nama gue dengan sambil meriksa LA*
Gue : *lirik, ngirain manggil*
Kak Arief : Nilai LA-nya mau berapa?
Gue : Ya full dong~~ *wakakak* eh, tapi terserah ding, sepantesnya ajah. Tapi kalo full kan lumayan, bisa nambahin nilai.
Kak Arief : Full? Emang tau full-nya berapa?
Gue : Pokoknya full *males ngejawab “15”*, Tapi terserah << nada suara udah bagaikan orang yang udah bosen idup
Kak Arief : Benaran nih? Yaudah deh dikasih full.
Gue : Oh yaudah, makasih *cuek, mata masih lurus ke LCD yang codingnya masih bolong-bolong*


Wakakaka. Dasar. Itu gue lagi butek malah ditanyain nilai LA. Ya gue jawab full-lah. Sebutek-buteknya gue, tetep ajah nilai mah mau gede. Nyahahaha. Tapi gue pikir dia bercanda, lho. Sapa tau ajah dia lagi jail gitu; cuman ngasih harepan palsu *jiaaaah*

Btw, hasil ujian gue masih cuma sekiprit. Malah gak ada yang jalan pula programnya. BANGKEEEE! Gue rasanya pengen nangis beneran dah. Masalahnya, gue tau gue BISA, tapi kenapa saat gue bisa, banyak banget sialnya, haa? Oke, fine. Gue tau gue emang gak mungkin nyelesein itu semua ampe beneran selesai semua—gak mungkin, secara itu banyak banget. Tapi setidaknya, hasil yang gue bikin gak bakalan secetek yang gue bikin di komputer terakhir. Kalo PJ atau asisten meriksa hasil kerja gue, gue yakin mereka mikir gue bego banget. Well, emang bener juga. Gue bego. That’s the fact. Orang pinter gak akan panik dan stress kayak gue tadi. Orang pinter gak bakalan buyar koding gara-gara panik, tapi tetep ajah… si bego ini kan pengen nilainya bagus juga. Huahahahahaha.

Singkatnya, ujian selesai lebih cepet dengan janji Kak Dito kalo nilai dari anak-anak sekelas gak bakal ada yang di bawah 7. Gue liat Jay langsung diri ngedenger kak Dito ngomong gitu dan beberapa anak laen langsung males ngelanjutin karena well—angka 7 udah ditangan. Tapi emang boleh gue ngerasa lega juga? Yang di bawah 7 kan mereka yang notabene ngerjain dari awal dengan komputer yang fine-fine ajah dan waktu yang jauh lebih banyak. Lha gue? Belom jadi apa-apa men. Form gue berantakan, bahkan Captionnya pun banyak yang belom gue ganti. Mungkin statemen ‘gak bakal ada nilai yang di bawah 7’ itu bakal langsung berubah saat ngeliat hasil kerja gue. Hadoh.

Whatev.

Mudah-mudahan ajah enggak; mudah-mudahan statemen itu juga berlaku buat gue. Gue bakal bersyukur banget kalo seandainya nilai gue pun cuman dapet 7 mentok. Lha wong emang ujian gue ancur gitu *tabok komputer Lab* Yeah, well. Sebodo amat deh ah. Gue berdoa ajah dah supaya hasil gue gak jelek-jelek amat. Bisa mampus gue kalo nilai gue jelek. Alamat nemenin Malin Kundang jadi batu dah.

Kesimpulan dari entry ini : GUE BENCI KOMPUTER LAB TI!. Titik. Gak ada koma. Apalagi siaran ulang.

Udah ah; tidur.

*gegulingan naek ke tempat tidur*

***


*gegulingan lagi balik ke depan laptop* *nyengir* Belom ngantuk ternyata.

Btw, gue cukup terhibur malam harinya setelah gue ujian VB. Pulangnya gue udah ngeluarin stress gue dengan tereak-tereak ke anak cowok dari depan mesjid, makan pecel ayam dan mengadakan ‘Curhat session’ di pelataran Taman Gunadarma. Gue, Arum, Upil ma Manche duduk-duduk di tangga taman dan cerita ngalar-ngidul tentang hal-hal random. Seru dan FYI, inilah yang bakal gue kangenin dari mereka semua. Saat-saat kebersamaan dengan mereka dan berkoar tentang cerita masing-masing. Jujur, ini yang bikin gue lupa kalo sebelumnya ujian VB gue ancur berantakan. Wakakakak. Sahabat emang yang terbaik dari yang terbaik, bukan?

Ngemeng-ngemeng, gue berencana naro tulisan tentang sahabat-sahabat gue ini di blog suatu saat nanti. Gak menutup kemungkinan gue bakal mengulas tentang semua anak di kelas, tapi gue gak bisa janji kapannya. Bakal panjang soalnya, bakal susah mendefinisikan betapa hebatnya mereka semua. Kayaknya gue butuh semedi di gunung selama 4 tahun baru bisa nulis sesuatu tentang mereka. Wakakakak.

Yaudahlah, liat nanti ajah. Sekarang gue udah ngatuk beneran.

Later On,
shAz.LOVES.her.Life




Edit to Add:

- Ah, itu yang percakapan gue dengan Kak Dito dan Kak Arief hanya sebatas ingetan gue ajah, jadi kevalidannya masih agak diragukan. Salahkan otak gue yang punya sifat gampang inget-gampang lupa *kabur*

- FlashDisk Kak Dito ilaaang! Wogh, kasian. Tampaknya isinya penting SANGAT sampe dia agak linglung. Maap ya, kak, boro-boro liat. Kakak tau sendiri saya ribet sama komputer -__________-;;; Semoga cepet ketemu, deh.

- Dan wew, gue lupa bilang, NILAI LA GUE BENERAN FULL! 15! Wooot? Syakakakak. Woh, Kak Arief sama Kak Dito dua-duanya baekk bener ><. Dikirain bercanda ngasih LA full, gak taunya beneran padahal yang bercanda itu kan saya, tapi karena udah dikasih nilai, jadi ya apa boleh buat *siyul-siyul*. Gue cinta PJ ma Asisten VB—catet, PJ sama Asistennya—bukan KOMPUTER-NYA. Hokcuihhh.


…And at this time, special thanks goes to these angelic-guys, Kak Dito & Kak Arief xD

Saturday, April 11, 2009

Whoopsie, HE IS SOOO YESTERDAY!

Well, hallo!
I'm back, padahal gue baru ngepost entry beberapa jam yang lalu, lho. Wekekekek~ Tapi jangan protes plis. Malah seharusnya luu bersyukur karena hasrat blogging gue menanjak. Jarang-jarang, nih, gue napsu ngblog begindang. Langka. Terjadi hanya sekitar 1 abad sekali, which means napsu ngeblog gue yang lagi menggebu-gebu seperti sekarang ini hanya akan terjadi lagi di 100 tahun yang akan datang. Huahuahuaa. Itu juga kalo blogging belom dikategoriin 'purba' *dilempar jamban*

Back To The Business deh, ah.

Well, beberapa jam yang lalu, gue bongkar-cabik-hajar komputer gue di rumah―secara gue udah lama banget gak nyentuh itu barang semenjak gue nge-kost dan berbekal laptop *halah*―dan memasang playlist kenceng-kenceng sambil ngeliatin foto jaman SMA. Wakakakak. Setdah, ternyata kalo diliat lagi, bangunan Smanti oke juga. Mengapa oh mengapa diriku baru sadar? *digebukin* Haha. Tapi kebanggaan tersebut tidak berlangsung lama ketika dengan indahnya muncul sebuah gambar saat gue dan beberapa teman berfoto di toilet wanita *tahan napas* Oh Em Gee..*masih nahan napas*..Itu..*ditabok*..

JELEK BANGET GAMBARNYAAAA~A! Butut! Kumuh! Tidak Elit! Nista! Gembel! Bayangin, empat makhluk cantik nan sexy sedunia akhirat jadi tampak seperti anak SMA alay yang diam-diam berprofesi jadi tukang pulung saking jeleknya itu tempat yang dijadiin lokasi pemotretan. Masih mending kalo foto deket tempat wudhuu―KAGAAAK~ Ngepoll, men, foto di kamar mandi pojok yang ada wastafelnya. Gelap, surem. Madesu. Whatsoevaaa. Dan gue nyesel kenapa dulu gue berinsiatif foto di tempat begituan *jedotin kepala ke tembok* Akhirnya, berbekal semangat 45 dan keyakinan pada diri sendiri (wakakak), gue dengan pasti menekan tombol delete, kemudian Enter untuk mengkonfirm penghapusan *tsaah* Lega, dan sedikit banyak gue berharap gak ada orang lain yang punya copy-an foto tersebut. Nista, sumpah. Dekil ajojing. Benar-benar menunjukkan aib smanti. Syakakakak~*kabur sebelom digorok rame-rame*

Kembali menikmati foto jaman sma―yang notabene baru gue tinggalin setaon yang lalu.

Tiba-tiba, lagu ini terdengar. Mengalun ajojing, masuk telinga kanan dan nyaris keluar telinga kiri tapi untung gak jadi karena ada sesuatu yang menariknya kembali *tsk, lebayituibadah*

If it's over, let it go and
Come tomorrow it will be so yesterday, so yesterday
I'm just a bird that already flown away
Laugh it off and let it go and
When you wake it will seem so yesterday, so yesterday
Haven't you heard that I'm gonna be okay?


Well, denger lagu ini gue langsung terkesiap (drama queen? whatev.) Gak sebegitunya sih, syakakak. Cuma syok ajah. Tadinya gue boseeeeen banget sama ini lagu. Sering banget dulu gue nyanyiin lagu ini waktu Lizzie Maguire masih happening, but now, gotta admit that i miss it so bad. Pure-nya suara Hilary Duff yang masih inosen banget dan irama pop yang catchy bikin gue kangen taun-taun dulu, sumpah. Taun-taun saat musisi indonesia masih sangat tenggelam di jalur aman dan terkesan membosankan. Mengingatkan gue saat―

"So you finally get over him?"

*terdengar suara gedubraksan dikejauhan*

Tasya.

Oh, men. Sungguh timing yang buruk. Rasanya pengen gue tendang cewek yang satu itu ke genangan lumpur Lapindo karena telah menghancurkan serpihan kenangan yang telah gue kumpulan dengan penuh keringat *uhuk-gak-lebay-gak-eksis-uhuk* Gue lagi ngautis ke jaman tempoe doeloe, eh dia malah nanyain pertanyaan kagak nyambung (FYI, Tasya emang udah dari tadi di deket gue, selonjoran ajojing di tumpukan bantal.red)

Gue : 'Apaan, Sya?'

Tasya : 'Is he like.. so yesterday to you?'

Gue : 'He? Zen maksud lo? Ya kagaklah! Orang masih akur gini, yee..'

Tasya : 'Cemceman lo yang baru, Blo'on!'

Gue : *bingung*

Tasya : 'Bego emang luu ah, Sha..' (dia manggil gue sha-sha keak yang laen)
Gue : 'Si 'itu' maksud lo? *mikir* Iya keaknya. Bukan so yesterday lagi, tapi sooo last year gitchu deyhhs..*kedipin Tasya*'


Well, haaha. Tasya-nya kabur dengan ilfil tingkat MahaDewa. Watsoevaa. Gak peduli, but thanks to her, i finally realized something.

I. GOT. OVER. HIM!

Gee, man! Gue bahkan gak sadar sejak kapan gue udah gak peduli sama si cowok itu. Mau dia jadian ma temen gue, kek. Mau jadian sama monyet, kek. GUE BENER-BENER UDAH GAK MIKIRIN, YATTA~A! Hahaa. Lucu juga, mengingat betapa stresnya gue pas tau he made it with her. Berasa jadi orang paling menderita a la sinetron gitu gue, untung gak sampe nangis bombay. Huakakakakak. But now, ewww.. I feel so stupid! Pengen ngakak campur muak ngingetnya *gegulingan nista* Kenapa bisa gitu, ya? Padahal sekarang gue peduli setan ituh orang mau apa juga. Cinta memang monyet! Wakakakak.

He don't see me, his loss =)) The point is―hey, boy! YOU ARE SO YESTERDAEE~ *waving goodbyes*
lmao. oh, sure. i think it's time for anotha heartcrush? yadda, yadda..*dipentung zen*

Nyahahah. Sungguh tidak terduga. Ternyata lagu jadul Hilary bisa menyadarkan gue kalo Love is Easily Come and Easily Gone. Huakakak.

Udahan ah. Mau makan dulu, laper. Ntar gue lanjut kalo inget.

A-J-O-J-I-N-G,
shaz.loves.her.life

Wednesday, April 8, 2009

Randomness : Dimulai dengan Bogor, diakhiri dengan Laporan Praktikum

Home again. Hahaa!

So now, guys, for those who ever called me anak-durhaka-yang-gak-pernah-pulang, i give my sexy middle finger for ya. lol.

So..
I'm amazed how actually i missed every inch of this house. I missed the scent of my room though everything is still on their positions as i left them so (baca : berantakan to the core. lol). Gue ampe puyeng nyari tempat buat menghempaskan diri di kasur saking itu kasur dipenuhi berbagai macam barang yang gue-gak-tau-apaan =)) Akhirnya, gue nyungsep dan selonjoran ajojing ajah di lante dah ah. Muakakaka. Untung Bi Yayah tetep ngepel + nyapu kamar gue. Xixixi. Kalo enggak―beuhh, kagak tau setebel apa itu debu selama kurun waktu 3 bulan XD.

And guess what? This is what i love the most about this small town.

Udaranya, men. U-D-A-R-A-N-Y-A! Parah, adem banget. Apalagi pas gue nyampe, ujan turun rintik-rintik. Ajojing. Bau ujannya khas Bogor―dan yang paling gue syukuri, gak ada kilat atau PETIR. Buakakakaka. Bahkan setelah ujan berhenti pun; dipukul 16.20 ini; udara masih bersahabat. Nuansa setelah hujan yang gak mendung tapi gak juga terik gini emang kesukaan gue dari jaman orok dan no place could do this better. Bogor has it all. B-)

*hoaaaeemmm*
Ngantuk juga lama-lama ngedeplok dilantai sambil dengerin Avril dan blogging.

Duh. Inilah yang bikin gue males pulang ke Bogor; rasa nyaman ini. Bikin nagih; bikin tetep di Bogor dan gak balik-balik lagi ke Depok yang yaampunpanasnyagakketulungan. Rasanya bego meninggalkan rasa nyaman ini demi titik peluh karena memeras otak di kampus sementara hasilnya pun tetep 0 besar *dipites dosen* Tapi harus diakui juga kalo itu kewajiban gue, utang gue ke enyak-babe yang harus dijalanin walopun otak gue punya kadar jenius cuma sebates mata kaki. Sigh.

Jadi pengen kentut mikirin kuliah. Skip ajah ah.

Sebentar *ambil cemilan*

Ohooho. Nyampe depok gue makin ngebelendung dah nih.

Btw.. Apa, ya, yang beda dari kamar gue? Berasa ada yang ganjil *elus-elus dagu* Poster Avril? Tiga-tiganya ada. Jam Mickey mah emang udah mati dari kapan tau (note : beli batere!). Guling-bantal? Lengkap. Ah sebodo amat dah. Yang penting, it feels hella good to come home! Hoho.

Pengennya sih gue sering-sering pulang ke rumah, tapi meeennn.. Ampun deh, gue kagak nahan keretanyaaa~ Sukur-sukur gue dapet Ekonomi AC ato Express, lha kalo EKONOMI?? Geez, tobat. Kereta ekonomi tuh ibarat Kacang Segala Rasa Bertie's Botts *typo gak sih?* Ada rasa ingus, rasa muntah dsb. Nano-nano versi gembel dah. Nah, kereta ekonomi juga gituu! Mau tau tadi gue dapet kereta rasa apaan? Bujuud, tadi gue dapet kereta yang bau ikan asin dicampur BAU KETEK! Beuh. Ketek mah udah pasti dari mas-mas ABRI sebelah gue, tapi gue gak ngerti darimana tiba-tiba ntuh bau ikan asin berasal. Pokoknya.. Naujubileh. Bayangin ajah dah sendiri, ya, percampuran keduanya. Sekarat gue ngingetnya juga. Reaksi gue sih biasa ajah, as usual, cool sambil gerak-gerakin idung nahan napas dengan terselubung. Untungnya, Alhamdulillah bau ketek akhirnya menghilang setelah tuh ABRI turun di stasiun Citayam walaupun bau ikan asin tetap setia menemani hingga kereta berhenti di Bogor. Sweet. Dan tiada dihindari lagi, inilah yang terjadi selanjutnya :


shinta : assalamualaikum!
mama : walaikumsalaaam. kok baru nyampe?
shinta : iya, tadi makan dulu sama bocah-bocah. laper.
mama : tumben makan ikan asin *ngambil kesimpulan seenaknya*
shinta : HAH? *bingung*
mama : udah sana mandi dulu. kamu udah kayak anak kampung, bau ketek.
shinta : HAAAHH?


Ampun, deh. Besok-besok apa, haa? Baju gue kena iler anak sd alay? BEUH. Mending langsung topless deh gue, sumpah *digiles*

Sebenernya, bukan gara-gara kereta juga sih permasalahannya, tapi juga 'waktu'. Oke, mungkin terkesan lebay; terkesan sok-sibuk.
Have. It. Your. Way :3 capek gue ngejelasin betapa bedanya kesibukan yang gue rasain dan kesibukan temen-temen kalian yang kuliah di tempat yang sama dengan gue :) but well, ini intinya. Kuliah gue full; mentok sementok-mentoknya dari senin sampe jum'at. Dua hari libur, sabtu dan minggu, boro-boro pulang--gue malah harus berkutat dengan laptop dan ngarang bebas buat nyicil laporan praktikum buat hari selasa (dua laporan) dan rabu (satu laporan). Bisa ajah gue pulang, sih, cuma gue pengen yang praktis. Dan pulang sabtu pagi, nyampe rumah, istirahat bentar lanjut kerjain laporan dikit, lanjutin minggu pagi, balik lagi ke kostan minggu siang dan kembali ngerjain laporan JELAS BUKAN ARTI DARI KATA 'PRAKTIS' dalam kamus gue. Emang; emang dalem pengerjaannya gue gak sepenuhnya mikir sendiri, but hell, seandainya lo masih mikir itu 'enteng', you got it all wrong! Please let's just switch. I'm just gonna let you to be me for about 3 weeks. Iya, tiga minggu! Soalnya kagak bakal berasa capeknya kalo cuma seminggu doang, men *evil grins*

Karena itulah, men, gue memutuskan untuk pulang jika dan hanya jika ada liburan panjang ajah. Syakakak. Dan yang aneh, gue gak kangen enyak-babe-adek gue tuh *dirajam* Well, emang nyokap terlalu sering dateng ke kostan, tapi seandainya enggak pun, kayaknya gue masih gak kangen *ngakak setan* *dibuang ke panti asuhan*
Kenapa? Umm, kurang tau, ya. Mungkin faktor kelainan otak.

Pokoknya gitu deh ah. Heran gue, kenapa ini entry jadi ajang curhat loncat-loncat begini? Gak penting pula isinya =)) untungnya ini MASIH blog gue. Jadi seharusnya gak ada yang protes dong yaaa xD. Haha.

Adios,
SHAZ ♥ HER LIFE

Monday, March 30, 2009

Gue Berantakan. Terima Kasih Karena Bertanya.

I'm a mess. TOTALLY.

Semua tidak pada tempatnya; berserakan. Kadang bahkan sesuatu yang seharusnya ada, malah menghilang tanpa jejak dan mereka yang tiada malah datang berjumpa. Bukahkah dunia begitu iseng? Bermain dengan cara rendah; bermain dengan perasaan manusia. Mengaduknya sedemikian rupa hingga tak beraga. Abstrak; dan tidak semua abstrak bernilai seni. Kadang abstrak murah dan itulah hidup : MURAHAN.

Gue . Benci . Hari . Ini.

Mengerti?

GUE BENCI HARI INI!
Gue benci betapa hati gue merasa iri.
Gue benci betapa pecahan hati gak bisa gue temukan lagi.
Gue benci mengetahui betapa memori selalu tinggal dan tidak bisa pergi.
Gue benci betapa jahat dan tidak manusiawinya gue hari ini.
Dan gue benci saat janji gak bisa gue realisasi.

Benci.
Bencii..
Benciii..

Oh. Singkirkan, gue BENCI kata itu.

Lucu, hmm?

Patutkah gue membenci saat seharusnya, gue-lah yang DIBENCI?
Sigh.

Tapi gue senang sekarang; senang mengetahui begitu kaburnya makna kata benci buat gue karena bibir telah berulang mengucap. Kabur, buram. Dan rasanya memang nyaman melihat dunia yang buram. Semua tampak hebat dan busuk tertutup rapat untuk bisa dihujat.

Gue.
Cinta.
BENCI.

Setidaknya untuk sekarang. Dan setidaknya, hingga gue kembali mencintai CINTA.