CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Friday, December 11, 2009

Introducing : Me In a Emo Way

Finally. A time on my own.


Di sinilah gue. Berada di sekotak ruangan kecil di bagian pojok atas sayap kiri kostan yang bisa gue katakan sebagai ‘rumah kedua’. Sendiri. Duduk sambil menggerakan jari untuk menulis sesuatu yang gue pun tidak tahu arahnya. Nope, gue tidak kesepian. Jangan bercanda, kalian enggak tau betapa sepi itu sangat berharga buat gue dibandingkan dengan keramaian. Katakanlah, bahwa sebenarnya gue sedang menikmati saat ini. Saat-saat dimana gue pikir semua gerak manusia kecuali gue sedang terhenti. Cuma ada gue dan sepi, berbicara dalam sunyi.


Beberapa hari ini gue berpikir bahwa, tanpa disadari, gue berubah. I’ve mentally changed. Lebih perasa, lebih sensitive dan menganggap semuanya serius. That wasn’t me back then. The girl who I used to be never be that sensitive. She never took everything personally. But look at me now. I am mad because of something small. Gue jadi sering bengong tanpa melakukan apa-apa hanya untuk memikirkan satu masalah. Simplenya, hal itu terlalu lebay buat seorang gue, but I keep doing it cuz I cant help it.


Gue benci banget menjadi seperti ini. Tapi bisa apa?




Fine.


I am not gonna lie. This year is craaaazzzzy. So much pressure and so much negativity and there are more responsibilities that I’m not ready to take. Masalah bertebaran kayak samapah yang bisa dipungut sesuka hati. It’s not that I want to run away from all of that, it’s just I wish that I had more time; more space before I take those craps. Of course, called me Drama Queen—in fact, I don’t care. Tapi gue capek, sumpah. Gue capek mengejar segala hal. Gue capek nyoba nyelesain masalah yang ada. Gue capek menyenangkan beberapa orang yang tampaknya enggak pernah puas. Gue cuma..manusia. Mereka pikir gue bisa melakukan berapa hal dengan tangan gue yang cuma dua ini dalam satu waktu bersamaaan? Mereka pikir berapa hal yang bisa gue terima di otak gue yang kecil dalam waktu bersamaan? Semena-mena. Gue punya kapasitas. Gue punya batas dimana gue merasa gue enggak mampu, dan untuk memaksa melewati batas ketidakmampuan itu, it hurts. It takes too much. Terlebih saat mereka tidak menyadari berapa besar usaha yang telah gue lakukan untuk itu dan malah mencibir. Terlebih saat mereka mencoba menjudge gue tanpa bermain dengan tanda tanya lebih dahulu; berspekulasi dengan pikiran kotor mereka sendiri. Gosh, give me a break.


Tuhan, gue mau nangis.
Tuhan, gue mau teriak.


Gue pikir, gue bisa ngilangin semua pikiran burik ini dengan berada dikeramaian. Tapi nyatanya keramaian hanya memberikan harapan sementara. Saat dengan terpaksa gue harus kembali ke petak kecil ini, gue kembali bercinta dengan sunyi. Hanya dia yang benar-benar tahu gue. Hanya dia yang tau ada apa sama gue saat gue tidak punya jawaban apapun tentang apa yang sebenernya terjadi sama gue. Sunyi melihat buliran itu, dan sunyi mendengar isakan itu. Dia lihat ekspresi gue yang orang lain enggak pernah tau. Seriusan, deh.. Gue ingin membenci sunyi, tapi mungkinkah untuk membenci teman sejati?


Haish. Gue bosan merasa galau.
Susah emang jadi gue, selalu ujung-ujungnya malah stress sendiri. Tapi mau cerita pun sama siapa? Cerita apa? Paling mereka cuma bilang ‘oh,’ kan? ZZZ. Udah apal gue sama sifat kayak gitu. Jadi, ya, mending juga mereka enggak tau apa-apa. Mending juga mereka enggak tau kalo gue lagi galau. Ketidaktahuan mereka meringankan beban gue. Pernah denger enggak sih kalau ketidakahuan itu adalah obat yang paling tepat untuk menyenangkan hati orang lain? Saat lo mengetahui masalah orang laen—dan lo beneran tulus ngerasa apa yang dia rasain—pasti kepala lo juga ikut nyut-nyutan. Nah, kan. Yang stress jadi dua kepala. Padahal kalo lo enggak tau apa-apa, lo enggak mungkin ngomongin topic tersebut dan akan memulai topic baru yang bisa mengalihkan pikiran orang lain dari masalahnya itu. Hahaha.


ZZZZ.


Orang lain apanya coba. Itu statement ngaco hanya berlaku kalo diterapin ke gue doangan kayaknya. Wakakakakaka.


Yaudahlah, ah. Gue bosen mandangin laptop. Mau jalan keluar juga lagi males. Udah cukup sering gue keliaran sendirian kalau lagi galau, bosen, hahahah. Jadi mendingan tiduran sambil chat sama orang-orang cacat mental. Pengalih pikiran paling aneh, sebenernya, mereka itu. Tapi it works for me so I think I cant handle their randomness and abnormality.


CHAO!

0 komentar:

Post a Comment