CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Tuesday, August 18, 2009

I can’t speak English—and I’m serious.

Nyahaha. Gue gak ngerti kenapa entry kali ini judulnya aneh begitu *dijitak* tapi yaudahlah yaa. Gue lagi butek nyari judul nih.

Ngomong-ngomong soal ‘english’ atau yang biasa disebut ‘bahasa inggris’, gue jadi merasa tertohok. Wanna know why? Karena gue mulai merasa kemampuan berbahasa inggris gue menurun amat drastis. And I mean it—ini bukan teknik psikologi terbalik yang menyatakan kalo gue bilang ‘english gue menurun’ berarti gue bermaksud pamer bahwa ‘english gue malah semakin jago’. Bukan, bukan begitu. Gue serius. Bahasa inggris gue payah banget sekarang; bukannya nambah, tapi apa yang udah gue bisa jadi malah lenyap. Bahkan grammar error gue seringkali lebih fatal dari sebelumnya. Gue lebih sering membaca kalimat berulang kali untuk meyakinkan diri gue kalo grammarnya udah bener—FYI, never happened before. So yeah, itu degradasi yang sangat memalukan buat gue. Euh yap—memalukan. Bukan apa-apa, Cuma sejak dulu, bahasa inggris adalah subjek favorit gue. Pelajaran yang—alhamdulillah—selalu menuai nilai paling bagus diantara nilai pelajaran laen (sekarang kebongkar sudah betapa begonya gue dalam pelajaran lain =)) ). Gak tau ya, sementara orang lain merasa sulit memahami bahasa inggris, gue malah menganggapnya mudah, bahkan lebih mudah dari bahasa Indonesia sendiri yang aturannya belibet. Well, it’s not THAT EASY, though, but just.. less difficult.

Mungkin ini ada hubungannya dengan hobi dan ketertarikan gue pada bule?

*mikir*

Entahlah. Tapi FYI, dari dulu gue emang suka banget sama yang namanya bule. Kesukaan gue sama bule berlangsung sejak masa obesesi gue pada artis mandarin menurun *giggles* dan belom berhenti sampe sekarang. Gue merasa bule itu cakep, bersih (gue selalu seneng ngeliat orang yang gak kucel), keren—dan sempurna, walaupun kesempurnaan tersebut tidak berlaku untuk kullit mereka yang ber-freckles. And I just loved to think that I’m a Caucasian dan sering niru-niru gaya mereka dengan harapan dibilang sama kerennya waktu gue masih kecil dulu. Hal tersebut jelas membuat gue tertarik sama apa-apa yang berbau western—baik itu film ataupun musik. I love it so bad and it’s more my style. Tapi yang perlu digarisbawahi, kesukaan gue pada film dan musik barat itu pure objektif karena garis pemikiran, ide cerita dan konsep yang sangat menghibur dan punya variasi serta ciri khas sendiri, bukan karena gue cinta bule lantas gue menganggap semua film western dan musiknya itu perfect. Anyone said Disaster Movie is a good movie? Then you’re losing your mind. It’s entertaining but totally not good for me. Got the point here?

Intinya, gue cinta bule; gue cinta lagu dan film barat; otomatis gue sering dan terbiasa dengan bahasa inggris.

Sumpah, ngedengerin lagu-lagu enak tentunya bikin lo pengen sing along, right? That’s what happened. I listen to the song, download the lyric, sing it and I get used to some idioms and grammar way before I started to learn grammar. Setelah gue mulai belajar dan mengerti grammar sedikit, gue udah gak lagi download lirik. Gue cukup mendengarkan dan gue tahu maksud dari liriknya tanpa harus membacanya; hanya mendengarkan. Dengerin dua atau lima kali, gue udah bisa sing along—walaupun pada awalnya semua kata yang gue denger gak 100% bener. But it was something and I was proud of it.

Begitu juga dengan film barat. GUE CINTA NONTON FILM! I was crazy about watching movies. Give me some good and entertaining movies and you could take everything from me or relieve cuz I would not bug you so you could do whatever you want (this statement personally dedicated to several persons who find that I’m kinda annoying : ) ). Pertama kali nonton film barat, tentunya gue masih sangat bergantung pada subtitles. Harus BAHASA INDONESIA, nyahahaha, kalo gak gue gak akan ngerti. Tapi seiring waktu berjalan, gue mulai mengerti beberapa kalimat bahkan sebelum gue membaca kalimatnya karena gue sering mendengarnya diucapkan di film lain. So I had been trying to use it whenever I think I could use it. Lama-lama, gue ucapin selamat tinggal sama subtitles bahasa Indonesia dan mulai menjalin hubungan dengan subtitles berbahasa inggris. It’s way easier cuz my English was improved. Tetep ada beberapa kata yang gue gak ngerti tapi mule saat itu, gue bisa ngerti 88%an dari plot film dengan berbekal subtitles bahasa inggris. Terus meningkat dan akhirnya gue putusin untuk nonton film tanpa subtitles sama sekali. Agak sulit awalnya, apalagi kalo lagi nonton film yang artikulasi aktornya gak jelas atau tuh film punya sound yang payah. But I made it though. Gue memang gak pernah 100% ngerti percakapan antartokoh kalo lagi nonton tanpa subtitles, tapi gue ngerti garisbesarnya. Dan it felt so good to know.

Well. Yeah, kalo ada yang nanya siapa guru bahasa inggris gue, gue akan jawab, “film dan musik barat.” *dijitak guru dan dosen bahasa inggris* Yep, mereka guru sejati gue; mereka menambahkan kosakata baru dan ngajarin gue intonasi setiap kali gue abis ngedengerin atau nonton. Membuat gue punya kemampuan berbahasa yang sama atau bahkan sedikit lebih baik di atas temen gue yang les di tempat macam Lembaga Pengembangan Bahasa Inggris atau apapun itu namanya tanpa harus membayar mahal. Hey—lihat betapa beruntungnya gue? Gue hanya butuh ngeluarin kocek sedikit untuk beli atau donlot film dan musik, tapi gue bisa belajar bahasa inggris dari situ—dan di sisi lain, gue masih bisa seneng-seneng. Tapi gue sadar, kok, peran guru bahasa inggris di sekolah juga sangat besar. Kadang belajar bahasa inggris secara otodidak itu membuat kita mengambil kesimpulan sepihak tentang cara mengucapkan sesuatu atau malah seringkali membuat aturan grammar sendiri atas asas perkiraan. Nah, di sinilah peran para guru tersebut. Membenarkan saat gue salah menginterpretasikan sesuatu dalam tahapan belajar otodidak gue. And it’s cool to learn that you were wrong in the proceed to get right : )

Masalahnya sekarang—oke, mari kita kembali ke topik awal—setelah semua tahapan belajar bahasa inggris secara otodidak yang telah gue terapkan, sekarang semuanya bagaikan lenyap. Ilang; samar; kabur or whatever it is you’d name it.

Berasanya sejak kuliah, yep, gue yakin itu. Di kampus gue emang ada materi kuliah bahasa inggris, tapi materi yang diajarkan amat sangat tidak berbobot untuk tingkatan anak kuliah. Materi ecek-ecek, kalo gue boleh bilang. Gak ada tantangannya, karena yang gue dan temen-temen gue pelajarin cuma ulangan dari materi waktu SMA. Gue sih seneng ajah—secara nilai gue jadi relatif pada bagus walaupun gak pernah mencapai tingkat sempurna -.-“. Gue cuma agak kecewa karena kemampuan bahasa inggris gue gak bisa diimprove lebih dalam ditingkat Perguruan Tinggi. Apalagi, begitu tau kalo semester tiga nanti matkul bahasa inggris gak bakal ada sama sekali dan malah diganti sama bahasa Indonesia. Yeah I know, I was just like “what the hell is going on with this university?” well, bukannya gue meremehkan bahasa Indonesia—nope, enggak sama sekali; gue malah beranggapan kalo bahasa Indonesia itu sulit banget. But the point is, for me, semua peribahasa dan konotasi itu gak akan banyak berguna di saat gue bekerja nanti, apalagi bahasa Indonesia itu bahasa native, so I think that would be easy if you use it only for formal conversation. Tapi beda dengan bahasa inggris. Ini zaman global, man. English is everywhere and totally something that needed as ability when you’re applying for a job. Apakah saat kerja lo akan ditanya apa lo bisa berbahasa Indonesia? Gak kan? That’s my point.

Buat gue yang kuliah di jurusan IT, gue rasa bahasa itu penting dan dasar banget. Seorang lulusan IT membutuhkan kemampuan bahasa yang baik untuk kedua bahasa inggris dan Indonesia, karena program atau apapun yang akan mereka buat nanti akan menjadi sebuah layanan public buat masyarakat atau sekelompok konsumen. Mereka harus bisa mempresentasikan hasil kerja mereka ke dalam kalimat yang jelas dan singkat, tapi efektif.

Nah.

Kalo kejadiannya kayak kampus gue—yang notabene menyediakan bahasa inggris dan bahasa Indonesia secara bergantian tiap dua semester—don’t you think that’s kinda lame? IMO, akan lebih baik kalo kedua bahasa tersebut diadakan ditiap semester kalo ingin memaksimalkan ability dari mahasiswa ATAU memilih bahasa inggris SAJA kalo dihadapkan pada keinginan untuk lebih efisien dan efektif. Kalo matkulnya digilir begitu, bisa-bisa malah gak efektif sama sekali. Dua semester belajar bahasa inggris, dua semester kemudian belajar bahasa Indonesia. Nah, saat lo belajar bahasa inggris dua semester selanjutnya, apa lo gak merasa harus beradaptasi lagi? Gak merasa lupa dengan materi bahasa inggris yang udah lo pelajarin di semester-semester sebelumnya? Untuk gue yang punya daya ingat payah, bisa heboh kejadiannya. Gue bisa-bisa bongkar isi kamar buat nyari materi dua semester yang lalu *oke, gue tau gue lebay, nyahahaha*

So, do I make myself clear? Itulah kenapa gue merasa English gue menurun dan tampaknya akan terus menurun. SIGH. Kalaupun semester depan—magically—gue dapet matkul bahasa inggris, gue yakin masih bakalan mentok jalan di tempat. Untuk ukuran dosen, gue rasa yang penting bagi mahasiswa hanyalah materi. Writing and reading, perhaps. Selama semester kemaren, gak ada yang nyenggol-nyenggol soal speaking dan gue tau temen-temen gue rada freak out juga kalo misalnya emang ada tes atau apapun yang berbau speaking. Tapi—hey, kenapa sih emangnya? Practise makes perfect—kalo lo gak ngebiasain bicara dengan bahasa inggris, gimana caranya lo bisa maju? Sementara usaha orang lain udah berkembang jadi usaha yang internationally succeed, usaha lo masiiihh ajah cuma bisa menuai sukses secara lokal atau minimal nembus pasar nasional hanya karena kendala bahasa—mau kayak gitu?

Oke, emang sih semester kemaren dosen bahasa inggris gue ngasih tugas presentasi karena FYI, dia MALES NGAJAR; everyone knows that berkelompok dan mahasiswa dibebaskan untuk menyampaikan presentasi dalam bahasa inggris atau Indonesia. Gue peeengeeenn banget bisa presentasiin dalem bahasa inggris—dan dua temen kelompok gue juga udah setuju. Tapi somehow rencana berubah saat ngeliat hampir semua kelompok laen menggunakan bahasa Indonesia. Kita langsung merasa gimaanaa gitu. It’s unwritten but it’s just the way it is. Lo tau kalo lo menggunakan bahasa inggris buat presentasi sementara yang laen pake bahasa Indonesia, it’s like public suicide. Akan muncul komen “Edaaaann~ pake bahasa inggris. Jago nih,” atau semacamnya and it’s embarrassing! I could ignore it as usual but my two partners apparently couldn’t. So bahasa Indonesia it was.

Dan karena itu lagi-lagi kemampuan bahasa inggris gue tidak bertambah sejengkal pun.

Untuk saat ini, gue hanya bisa mengandalkan para guru otodidak gue kembali, film dan lagu barat, walau waktu yang digunain buat gue nonton dvd dan donlot lagu baru sekarang terbatas oleh kesibukan gue kuliah. But I won’t give up and I’m trying harder to improve my English cuz it’s something that I love to do. Haaha.

Cheers,
Shaz Loves Her Life.

0 komentar:

Post a Comment